Tekfin Bakal Merajai Pembayaran Digital Pada 2027

Morgan Stanley merilis laporan bertajuk “Disruption Decoded – Indonesia Banks: Fintech Continues to Lead Digital Payment Market (Tekfin (teknologi finansial) terus pimpin pasar pembayaran digital)”. Laporan tersebut disusun oleh Mulya Chandra dan Yulinda Hartanto.

Dalam laporan ini, berdasarkan survei AlphaWise,  pasar pembayaran digital Indonesia ditaksir bakal terus berkembang pesat berkat layananTekfin. Diperkirakan pada tahun 2027 berpotensi mencapai US$50 miliar. 

Meski begitu, Morgan melihat sektor perbankan tidak sepenuhnya terancam, walaupun pertumbuhan e-money yang eksponensial bisa mendorong terjadinya skenario terburuk akibat ekspansi fitur yang dilakukan.

Dalam laporan Morgan Stanley berdasarkan keterangan persnya (21/2/2019), terungkap bahwa transaksi e-money meningkat empat kali lipat pada 2018 menjadi Rp47,2 triliun. Hal tersebut setara dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) 5 tahun terakhir, yaitu sebesar 75% dan pangsa pasar e-money sebesar 7,3% dari transaksi non tunai, menempatkan Indonesia empat tahun di belakang India.

Kemudian, tekfin bakal memimpin ruang pembayaran digital, melampaui bank, e-commerce dan perusahaan telekomunikasi. Sistem pembayaran tekfin oleh Gojek dan Ovo diperkirakan memimpin jika dibandingkan dengan pembayaran digital oleh e-commerce lain seperti TokoCash, ShopeePay dan BukaDompet. Hal ini dikarenakan e-commerce masuk ke pasar Indonesia lebih lambat daripada tekfin dan juga kecenderungan pembeli untuk memilih opsi cash-on-delivery.

Responden Morgan Stanley mengaku rata-rata mengalami float sebesar 5% dari transaksi tahunan di akun e-money, jauh lebih rendah dari asumsi sebelumnya, yaitu 100-130%.

Namun, kata Yulinda, survei ini tidak mencakup responden dari merchant dengan saldo yang tinggi. Laju tinggi adopsi e-money relatif sesuai dengan kebutuhan dari konsumen, sedangkan efisiensi operasional bank melalui adopsi teknologi digital masih dianggap belum memenuhi kebutuhan atau harapan konsumen.

Maka dari itu, Morgan Stanley meninjau kembali asumsinya dan mengeluarkan proyeksi peluang pembayaran digital lebih rendah sebesar US$50 miliar dibandingkan sebelumnya sebesar US$70 milliar.

Lebih lanjut, survey menunjukkan dampak yang tidak terlalu mengganggu untuk bank daripada yang diduga sebelumnya, terutama pada rendahnya retensi float pengguna. “Namun, dengan volume transaksi yang berkembang pesat, pembayaran digital tekfin tetap menjadi disrupsi yang potensial,” kata Yulinda, salah satu penyusun.

Beberapa faktor yang menurut Morgan Stanley dapat membuat tekfin menjadi lebih disruptif untuk bank seperti:

a)      Ekspansi fitur e-money oleh regulator

b)      Meningkatnya keterbukaan merchant untuk penggunaan tekfin

c)      Konversi lebih cepat dari uang tunai ke non-tunai, mengingat tekfin lebih unggul dari bank dalam hal kemudahan penggunaan

Berdasarkan hasil survey tersebut, Morgan Stanley memberikan pandangan lebih lanjut yang dapat dilihat di beberapa poin berikut ini.

  • Penggunaan dimotivasi oleh kemudahan berupa diskon atau promosi. Menurut Morgan Stanley, hal inilah yang membuat tekfin lebih diuntungkan dibanding bank;
  • Upaya tekfin untuk membangun jaringan top-up mereka sendiri melalui pengemudi terbukti efektif dan disukai oleh para pengguna. Hal ini juga menjadikan tekfin lebih mandiri daripada bank, yang menurut kami menjadi faktor risiko untuk bank;
  • Keterbukaan merchant untuk mengadopsi tekfin juga menjadi tantangan utama bagi tekfin. Bank, sejauh ini unggul dibanding tekfin dalam hal adopsimerchant. Morgan Stanley melihat bahwa bank perlu melindungi keunggulan bank ini sebagai bagian dari kemudahan yang ditawarkan untuk melawan dominasi tekfin dalam pembayaran digital.

Adapun perubahan asumsi yang utama oleh Morgan Stanley adalah:

  • Morgan Stanley memotong rasio transaksi float/tahunan dari 1,0-1,3x menjadi 0,2-0,8x, sembari meningkatkan nilai transaksi basis uang elektronik menjadi Rp47 triliun pada 2018 dan Rp12 triliun pada 2017;
  • Morgan Stanley mengurangi asumsi efisiensi biaya bank dari 20% menjadi 18%, mengingat tidak ada kemajuan berarti dalam satu tahun terakhir.