Minyak Kelapa Baik Untuk Mengatasi Jenis Penyakit Kulit Ini

Dermatitis kontak (DK) merupakan kelainan kulit paling sering di antara semua penyakit kulit akibat kerja, yaitu sebesar 90–95%. Dermatitis pada tangan merupakan kelainan kulit yang paling sering ditemukan dibandingkan area tubuh lain.

Perajin batik, menurut Doktor dr. Windy Keumala Budianti, SpKK, merupakan kelompok berisiko tinggi mengalami dermatitis tangan akibat kerja. “Tapi upaya pencegahan menggunakan alat pelindung diri (APD) fisik tidak memberi perlindungan optimal sehingga dibutuhkan intervensi lain berupa APD kimia,” ujarnya dalam keterangan pers dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Kamis (17/1/2019).

Pelembap yang kaya kandungan lemak mampu mencegah iritasi pada kulit, memperbaiki sawar kulit, dan mencegah kekambuhan dermatitis. 

Sehingga para perajin batuk menggunakan minyak kelapa merupakan bahan tradisional yang popular digunakan untuk perawatan kulit sejak turun-temurun, kaya kandungan asam laurat, berfungsi sebagai pelembap yang bersifat mempertahankan air di dalam kulit bila diaplikasikan dalam konsentrasi yang tepat.

Sedangkan gliserin merupakan humektan yang baik yang mampu menarik air dan menyimpannya di dalam kulit.

dr. Windy Keumala Budianti, SpKK, pun melakukan studi yang mengantarkannya meraih gelar doktor di FKUI, Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dalam studinya itu ia ingin mengetahui efektivitas dan dermatofarmakokinetik pelembap yang mengandung minyak kelapa dan gliserin untuk pencegahan sekunder dermatitis-tangan pada perajin batik, dibandingkan dengan krim gliserin saja. 

Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar ganda acak cross-over yang melibatkan 32 perajin batik lelaki di bidang pewarnaan dan pencucian berusia 25–60 tahun dengan dermatitis-tangan akibat kerja.

Riset dilakukan di sentra batik Bantul dan Kulonprogo, Yogyakarta. Efektivitas pelembap dinilai dengan skor klinis Hand Eczema Score Index (HECSI), transepidermal water loss (TEWL), dan skin capacitance (SCap) dorsum tangan dan palmar pada baseline dan 14 hari setelah menggunakan krim pelembap.

Metode skin stripping digunakan untuk mengetahui penetrasi dan retensi pelembap di dalam stratum korneum setelah diaplikasikan 12 jam. Setelah 14 hari, kedua pelembap menunjukkan perubahan skor HECSI, penurunan TEWL dan peningkatan SCap lebih dari 20%. Perbandingan efek terapi kedua pelembap pada nilai HECSI, penurunan TEWL, dan SCap secara statistik tidak berbeda bermakna. 

Hasil skin stripping menggunakan analisis kromatografi menunjukkan bahwa terjadi penetrasi asam laurat dan gliserin kedua krim pada jam ke-3 (uptake) dan masih terdeteksi pada jam ke-12 (clearance).

Krim minyak kelapa dan gliserin  mampu meretensi kadar asam laurat dan gliserin lebih tinggi dibandingkan krim gliserin saja. Pada penelitian ini ditemukan tipe dermatitis-tangan terbanyak adalah hiperkeratotik palmaris pada 56% subjek, interdigital eczema 15,6%, nummular hand eczema 12,5%, pulpitis 9,4%, dan recurrent vesicular hand eczema 6,3% subjek. Diskolorasi kuku ditemukan pada 96,97% subjek.

Subjek yang selalu menggunakan APD sebesar 40,6% sehingga risiko subjek mengalami dermatitis-tangan cukup besar. Pada 32 subjek tidak ditemukan efek simpang akibat penggunaan kedua krim. Tidak ditemukan tanda dan gejala interaksi buruk antara pelembap dengan pajanan bahan yang digunakan saat bekerja. 

Temuan ini mendukung rekomendasi penggunaan pelembap berbahan aktif minyak kelapa dan gliserin secara rutin, minimal tiap 12 jam per hari, kepada perajin batik bagian pewarnaan dan pencucian.

“Ini berjalan paralel dengan program kesehatan kerja,  diseminasi informasi dan pendekatan melalui edukasi bagi para perajin, pemilik industri batik, tenaga kesehatan  antara lain mengenai upaya keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja,” katanya.

Selaian itu paralel dengan pengenalan bahan iritan dan alergen di lingkungan kerja,  penggunaan APD yang benar dan sesuai, dan perawatan kulit secara komprehensif pada pencegahan dermatitis-tangan akibat kerja, serta pendekatan melalui regulasi kebijakan pemerintah, berkaitan dengan program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan.

Salah satu strategi menurunkan biaya kesehatan adalah dengan meningkatkan usaha pencegahan, dan dermatitis-tangan akibat kerja merupakan salah satu kondisi kulit yang dapat dicegah.

Upaya ini juga dapat menurunkan biaya kompensasi perawatan per orang pada penggunaan berbagai terapi kuratif dermatitis, serta pengembangan berbagai penelitian lain mengenai kesehatan kulit di bidang okupasi.