Menguatnya Kembali Dolar Bukan Dari Bank Sentral AS

Setelah sempat melemah beberapa pekan, pekan ini dolar kembali menguat. Akibatnya rupiah kembali menembus ke angka Rp 14.000 per dolar. Ada yang menduga itu karena ulah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve.

Menurut pengamat keuangan Jameel Ahmad, Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM, ada kemungkinan bahwa kebijakan bank sentral dari Federal Reserve bukanlah pemicu di balik reli USD.

“Dolar yang bergairah mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan perubahan arah kebijakan Fed beberapa pekan sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima (12/2/2019).

Investor mungkin berpikir bahwa negosiasi dagang AS-Tiongkok yang “tidak ada berita” tidak dapat menjadi contoh “tidak ada berita adalah berita baik” dalam situasi perdagangan yang tegang saat ini. Ada ancaman besar bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan tarif lebih besar terhadap barang Tiongkok pada awal Maret.

Di sepanjang enam bulan pertama 2018, kita sudah menyaksikan bahwa ketegangan dagang yang memicu kegelisahan pasar membuat Dolar meroket terhadap mata uang global lainnya, sehingga tidak mengejutkan apabila sejarah kembali berulang – apabila tarif dagang semakin meningkat.  

Menurut Bloomberg, nilai spot mata uang G10 terhadap Dolar sudah berada di area merah sejak 30 Januari. Hal ini terjadi setelah huru-hara pasar yang terjadi saat Ketua Dewan Gubernur Fed Jerome Powell memberi sinyal perlunya “kesabaran” mengenai langkah kenaikan suku bunga Amerika Serikat ke depannya.

Hal lain yang mungkin memperkuat USD adalah keadaan ekonomi AS yang terus mengesankan. Pada saat yang sama, berbagai negara selain Amerika Serikat di pasar berkembang dan maju juga menghadapi risiko negatif di ekonomi masing-masing.

Mereka yang lelah dengan berita trading yang ditarik-ulur mungkin cenderung mengarahkan pikirannya ke kembalinya divergensi ekonomi dan bank sentral antara Amerika Serikat dan hampir seluruh wilayah lainnya. “Ini jelas mendukung apresiasi Dolar,” ujarnya. 

IHK Januari AS pekan ini akan menjadi titik uji berikutnya terhadap dependensi data Fed. Setelah itu, perhatian akan tertuju pada rilis hasil rapat 30 Januari FOMC di pekan depan yang berpotensi memberi isyarat mengenai apa yang mendorong perubahan arah Fed belum lama ini.

Posisi kebijakan suku bunga AS saat ini akan memungkinkan bank sentral lainnya menghentikan sementara pengetatan kebijakan moneter di negara masing-masing. Karena bank sentral di seluruh dunia akan mempertahankan suku bunga atau cenderung melonggarkan, investor semakin tidak tertarik untuk melepas Dolar.

Prospek kebijakan moneter global yang dovish dan indikator kekuatan ekonomi AS yang semakin positif, akan membuat Dolar semakin menarik. Karena itu, DXY mungkin kembali ke level tertinggi 97.54 yang tercapai di November 2018.

Permintaan terhadap Dolar belum tentu terus meningkat di jangka pendek. Trader tidak boleh menganggap USD akan terus bergerak naik tanpa ada peluang untuk turun.

Walaupun penutupan pemerintahan AS mungkin berhasil dihindari, pasar juga harus memperhatikan negosiasi penting pekan ini di Beijing mengenai ketegangan dagang AS-Tiongkok. Perdamaian 90 hari kedua negara ini hampir berakhir. Apabila Presiden Trump memberlakukan kenaikan tarif barang Tiongkok pada 2 Maret, Dolar dapat semakin menguat.

Walaupun kedua negara itu, kata Jameel Ahmad , menghadapi berbagai hambatan politik dan ekonomi, pasar berharap bahwa kesepakatan dapat segera tercapai. Ini akan dianggap berdampak negatif pada Dolar.

Apabila kesepakatan berhasil disetujui di Washington (untuk mendanai pemerintah AS) dan di Beijing (untuk menghindari kenaikan tarif), maka ini akan dianggap sebagai pemicu kembalinya sentimen risk-on. Dengan kata lain, ini akan menjadi faktor penggerak penting terhadap kenaikan pasar saham global, permintaan mata uang pasar berkembang, dan komoditas seperti minyak.

Sebaliknya, ini adalah risiko yang dapat menghentikan reli Dolar yang telah terjadi sejak bulan Februari.

Walaupun terus menguat terhadap mata uang G10, Dolar AS mencatat hasil yang bervariasi terhadap mata uang pasar berkembang di periode yang sama. Sebagian mata uang pasar berkembang menguat terhadap Dolar, bangkit dari posisi oversold tahun lalu, dan didukung oleh berbagai faktor seperti fundamental ekonomi domestik yang sehat, arus masuk modal asing, dan kenaikan harga komoditas. 

walau begitu, mata uang pasar berkembang masih terpapar pada berbagai peristiwa global yang dapat merusak sentimen risiko global, seperti ketegangan dagang AS-Tiongkok dan perlambatan pertumbuhan global. Keadaan ekonomi Tiongkok yang melambat juga menjadi gangguan besar bagi pertumbuhan global, dan perlambatan ini terasa di banyak ekonomi berkembang melalui jalur dagang dan FX.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *