Ini Lima Alasan Mengapa Karyawan Resign Setelah Lebaran

Pasca hari raya lebaran kerap menjadi waktu favorit yang dipilih karyawan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya, mengingat telah cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) dan banyaknya perusahaan yang membuka lowongan kerja usai lebaran, sehingga menjadikan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk keluar dan mencoba pekerjaan baru.

Namun, ini bukan merupakan satu–satunya alasan mengapa karyawan resign, karenatidak menutup kemungkinan bahwa mereka telah merencanakan pengunduran dirinya sejak jauh – jauh hari karena berbagai macam alasan.

Bahkan pada sektor industri digital yang sekalipun menawarkan berbagai macam paket benefit menarik untuk karyawannya, turnover karyawannya merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan sektor industri lain di Indonesia.

Bahkan, menurut keterangan persnya (12/6/2019), bisa mencapai 19,22% dimana industri lain rata – rata hanya 10%. Itu menurut data terakhir dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).

Dilansir dari temuan Robert Walters Asia yang telah melakukan survey kepada 771 pencari kerja dan 496 manajer perekrutan di Asia, termasuk Indonesia, menyatakan bahwa ada lima alasan utama mengapa karyawan mengundurkan diri, antara lain:

  1. Terbatasnya pertumbuhan di perusahaan. Karyawan profesional memiliki keinginan kuat untuk selalu tumbuh dan berkembang di dalam sebuah perusahaan, dikutip dari laporan Robert Walters, prospek pertumbuhan yang buruk di dalam sebuah perusahaan merupakan satu dari dua alasan utama mengapa karyawan mengundurkan diri.
  2. Merasa dibayar rendah. Gaji adalah alasan utama lainnya. Karyawan dapat dengan mudah membandingkan dengan penghasilan rekan seprofesinya dari perusahaan lain, yang dapat memudahkan mereka dalam menilai bagaimana perusahaannya menghargai mereka.
  3. Tidak lagi tertantang. Karyawan yang baik tidak ingin sekedar bekerja, mereka ingin terlibat dengan pekerjaannya secara mendalam dan merasa terus tertantang untuk mendapatkan pelajaran yang bermanfaat dari apa yang dikerjakannya.
  4. Merasa diremehkan. Karyawan menginginkan pengakuan atas pekerjaan mereka. Ketika perusahaan mengabaikan prestasi karyawannya, mereka tidak segan untuk mencari perusahaan yang mau mengapresiasi hasil pekerjaannya.
  5. Budaya perusahaan tidak lagi cocok. Setiap karyawan memiliki preferensinya masing – masing terhadap budaya perusahaan yang membuatnya nyaman. Namun, tidak adanya komunikasi terbuka antara manajer dan karyawan di tempat kerja merupakan budaya buruk yang sering kali mengganggu kenyamanan karyawan di sebuah perusahaan. (hkw)