Terapi Baru Atasi Disfungsi Ereksi

Penderita disfungsi ereksi (DE) kini memiliki harapan. Brian Le, peneliti dari Departemen Urologi University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, belum lama ini mengembangkan teknologi baru untuk mengatasi penyakit sesksual khas pria.

Bersama dengan Alberto Colombo dan Kevin McKenna di Northwestern University, Illinois,, dan Kevin McVary di Southern Illinois University, keduanya terletak di Amerika Serikat, mengembangkan implan.

Teknologi baru Le ini menggunakan exoskeleton yang terbuat dari Nitinol (nikel-titanium alloy). Nitinol sudah berguna dalam operasi endovascular berkat sifat superelastiknya.

Implan baru adalah paduan bentuk memori yang diaktifkan oleh panas, yang berarti bahwa ia memiliki kemampuan untuk “mengingat” bentuk aslinya. Pada suhu tubuh, implan tetap lembek, tetapi ketika dipanaskan, untuk diperluas dan berbentuk memanjang.

Agar bisa bekerja, implan dibantu alat pengontrol jarak jauh sedang dirancang. Alat pengontrol tadi di atas penis. Bila ditempelkan pad atubuh, Nitionol akan terpengaruh oleh panas tubuh, sehingga penisberkembang, memanjang dan tebal.

Selama ini, Namun, ada beebrapa jenis pompa yang sudah digunakan. Namun pemasangan rumit dan tak nyaman. Selain itu berpotensi terhadap komplikasi meis, seperti kebocoran air dari reservoir internal.

Perangkat yang paling sederhana saat ini digunakan adalah implan lunak. Hal ini relatif murah dan mudah untuk menginstal, sehingga lebih populer di negara-negara berkembang dibandingkan di Amerika Serikat.

Namun demikian, kelemahan metode ini. Namun begitu penggunanya mengeluh penisnya mengalami ereksi secara permanen danmerusak jaringan.

Jumlah penderita DE lumayan banyak. Penyakit ini mengenai 40 persen pria berusia 40-70 tahun dengan memiliki beberapa tingkat disfungsi ereksi. Dari jumlah tersebut 40 persen di antaranya mengaku tidak ereksi meskipun sudah mengonsumsi Viagra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *