Politik

Presiden Donald Trump Perkenalkan Program Pertahanan Rudal

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memperkenalkan Tinjauan Pertahanan Rudal 2019 pada hari Kamis (17/1/2019). Perisai rudal global yang diklaim dapat “mendeteksi dan menghancurkan rudal yang diluncurkan terhadap Amerika Serikat di mana saja, kapan saja.”

Di dalam program tersebut, termasuk usulannya termasuk sensor berbasis luar angkasa dan pencegat canggih yang akan memblokir terhadap sistem baru dan teknologi rudal hipersonik yang sedang dikembangkan oleh pesaing militer utamanya Rusia dan Cina.

Program yang diperkenalkan Amerika Serikat itu mengundang reaksi Cina dan Rusia. Kedua negara itu menuduh AS berusaha untuk memprovokasi ketegangan geopolitik lebih lanjut. Seperti dilansir situs newsweek.com (18/1/2019), para pejabat Cina dan Rusia menilai program Trump itu akan memicu perlombaan senjata.

“Laporan Amerika penuh dengan konsep ‘Perang Dingin’ dan ‘permainan zero-sum’ yang ketinggalan zaman. Dokumen itu melebih-lebihkan konfrontasi geopolitik dan persaingan kekuasaan, dan berbicara secara tidak masuk akal tentang ancaman dari China,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina,

Ia memperingatkan bahwa peninjauan itu dapat “merusak perdamaian dan keamanan regional, mempengaruhi proses pelucutan nuklir internasional, menyebabkan perlombaan senjata, dan merusak keseimbangan strategis dan stabilitas di dunia.”

Moskow menyuarakan keprihatinan serupa terhadap tinjauan pertahanan rudal. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa “strategi itu benar-benar memberi lampu hijau bagi prospek mendasarkan kemampuan serangan rudal di luar angkasa,” membandingkannya dengan strategi “Star Wars” era perang mantan Presiden Ronald Reagan yang hancur, Perang Dingin.

“Implementasi ide-ide ini pasti akan mengarah pada permulaan perlombaan senjata di ruang angkasa, yang akan memiliki konsekuensi paling negatif untuk keamanan dan stabilitas internasional,” bunyi pernyataan itu.

“Kami tidak akan ditarik ke perlombaan senjata apa pun,” tambah Krasov. “Kami memiliki senjata dan peralatan militer paling modern. Kami harus menanggapi inisiatif militer baru oleh AS dan sekutu NATO-nya dengan latihan intensif.,” imbuhnya.

Comment here