Penasehat Ekonomi PM Jepang Usulkan Harga Obat Turun

Tingginya harga obat membuat sejumlah pemerintah beberapa negara berinisiatif memotong harga obat. Salah satunya adalah di Jepang. Dalam situs reuters.com (7/12/16), penasihat ekonomi Perdana Menteri Shinzo Abe, berharap pemerintah mengekang membengkaknya biaya kesehatan di negeri Matahari Terbit.

Empat penasehat sektor swasta di Dewan Abe Ekonomi dan Kebijakan Fiskal (CEFP) mengusulkan meninjau semua harga obat resep, yang ditetapkan oleh pemerintah, setidaknya setiap tahun — bukan sekali setiap dua tahun yang selama ini terjadi.

Penasihat ekonomi, termasuk Sadayuki Sakakibara, Kepala Keidanren Jepang, bahkan meminta pemerintah meninjau harga obat 4 kali setahun – terutama terhadap obat-obat yang terbukti efektif dan pernjualannya mengalami lonjakan luar biasa.

Penasihat Abe juga menyerukan meninjau harga obat generik sekali setahun atau lebih, yang akan mengakibatkan harga resmi yang lebih rendah mengingat bahwa harga pasar obat-obatan secara keseluruhan pada penurunan stabil.

Atas proposal tersebut, Abe memerintahkan Menteri Ekonomi Nobuteru Ishihara dan menteri kabinet lainnya untuk memetakan pedoman dasar dengan pertemuan panel berikutnya akhir bulan ini.

Jika proposal itu disetujui beberapa pabrik obat akan terpukul. Ambil contoh, seperti yang disebutkan reuters, obat kanker Opdivo, buatan Bristol Myers Squibb Co, dan Solvadi, merk obat hepatitis C buatan Gilead Science Inc, diperkirakan bakal akan terpangkas harganya.

Usulan tersebut mendapat penolakan dari industri farmasi asing dan domestik. Mereka menilai regulasi tersebut jika diterapkan, akan menghambat investasi asing di industri farmasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *