Pemerataan pelayanan Aritmia di Indonesia masih perlu ditingkatkan
Kesehatan

Pemerataan pelayanan Aritmia di Indonesia masih perlu ditingkatkan

Pemerataan pelayanan Aritmia di Indonesia masih perlu ditingkatkan agar kemajuan di bidang Aritmia secara global juga dapat dinikmati pasien-pasien di Indonesia secara lebih luas. Angka kejadian Aritmia, yaitu segala bentuk gangguan produksi impuls atau abnormalitas penjalaran impuls listrik ke otot jantung cukup tinggi di Indonesia.

Oleh karena itu, melakukan tatalaksana yang tepat diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Pemerataan layanan tersebut mencakup beberapa bidang, terutama ketersediaan SDM mengingat masih minimnya jumlah dokter subspesialis Aritmia di Indonesia serta ketersediaan alat yang diperlukan di layanan kesehatan.

Di samping itu, kepedulian petugas kesehatan, pemangku kepentingan serta edukasi masyarakat tentang penyakit ini masih sangat perlu ditingkatkan. Itu terungkap dalam jumpa pers yang digelar di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat (24/1/2018).

Demikian kesimpulan yang mengemuka pada Press Conference hari ini dengan bahasan mengenai tinjauan (overview) dan pandangan ke depan (outlook) terhadap Aritmia di Indonesia hari ini.

Dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP (K), FIHA, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society Meeting (InaHRS) pada Press Conference hari ini mengatakan, saat ini, teknologi dan tatalaksana Aritmia berkembang dengan pesat di seluruh dunia. Peningkatan pengetahuan tentang Aritmia tersebut sekaligus menggambarkan meningkatnya tingkat kepedulian para spesialis jantung dan pembuluh darah di seluruh dunia terhadap penyakit ini dan tentunya dengan kemajuan pengetahuan tersebut, lebih banyak hal yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.

“Di Indonesia, pengetahuan para dokter spesialis jantung dan pembuluh darah tentang Aritmia belum merata,” ujarnya. Terdapat perkembangan yang pesat di Jakarta, tetapi di kota-kota lain masih sangat perlu untuk ditingkatkan, baik jumlah dokter subspesialis Aritmia maupun fasilitas atau alat yang diperlukan.

Di antara lebih dari 1000 orang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP), saat ini hanya ada 25 orang subspesialis Aritmia, yang artinya rasio 1:10.000.000, padahal idealnya adalah rasio 1:100.000.

Oleh karena itu, salah satu outlook dan goal InaHRS sebagai asosiasi profesional peminatan Aritmia pada tahun 2018 ini adalah pemerataan pelayanan Aritmia di seluruh Indonesia. Pemerataan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan (fellowship) baik di Indonesia maupun ke luar negeri.

Di samping itu, InaHRS juga memfasilitasi dokter dengan guideline yang bisa diakses gratis. Kami juga menyelenggarakan Webinar yang dapat diikuti oleh dokter umum sehingga pengetahuan dokter umum dapat ditingkatkan.

Untuk diketahui, selain kota Jakarta, kota-kota lain yang saat ini sudah mampu melakukan pelayanan Aritmia antara lain Padang, Makassar, Palembang dan Yogyakarta, menyusul adalah kota Samarinda, Medan, Manado, Surabaya dan Semarang. “Kami berharap kota-kota lain akan segera menyusul, baik dalam ketersediaan SDM maupun alat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *