Obat Baru Diabetes Kurangi Lama Rawat Inap
Berita

Obat Baru Diabetes Kurangi Lama Rawat Inap

Ada pilihan baru lagi untuk penderita diabetes tipe 2. AstraZeneca mengumumkan hasil dari studi real-world (nyata) skala besar pertama yang mengevaluasi tingkat rawat inap karena gagal jantung dan kematian oleh berbagai penyebab pada pasien dengan DM tipe-2 yang menerima perawatan dengan kelas terapi terbaru dari obat diabetes penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor). Pengumuman tersebut dilakukan Di Jakarta (27/4/2017).

Studi CVD-Real menganalisa data yang diperoleh dari lebih 300.000 pasien di enam (6) negara, 87% diantaranya tidak memiliki riwayat komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah (CVD). Data tersebut menunjukkan bahwa dari populasi data pasien dengan DM tipe2 yang luas dan telah menerima pengobatan penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) – dapat menurunkan tingkat rawat inap hingga 39% (p<0.001) dan angka kematian karena berbagai penyebab hingga 51% (p<0.001), dibandingkan dengan pemberian obat-obat DM tipe 2 yang lainnya. Sedangkan untuk hasil gabungan dari rawat inap karena gagal jantung dan kematian karena berbagai penyebab, angka penurunan tercatat 46% (p<0.001).

Diseluruh dunia, diabetes mempengaruhi kehidupan dari sekitar 415 juta orang dewasa, angka tersebut diperkirakan akan naik hingga 642 juta pada tahun 2040 (1 dari 10 orang dewasa).2 Pasien dengan DM tipe 2 memiliki risiko 2-3 kali lebih besar terkena gagal jantung dan memililki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung atau stroke, dan sekitar 50% dari angka kematian pada para pasien dengan DM tipe 2 disebabkan oleh komplikasi penyakit kardiovaskular.3,4,5

Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD-KKV, Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Kardiovaskular, mengatakan pada tahun 2015, ada 10 juta orang dengan penyakit diabetes di Indonesia. Di tahun 2040 nanti, angka tersebut diperkirakan naik hingga 16.2 juta. Angka tersebut tentunya sangat menakutkan dalam hal kesehatan masyarakat di Indonesia.

Oleh karena itu, hasil studi ini menjadi aset penting yang dapat menjadi pertimbangan untuk perawatan bagi pasien DM tipe 2 dengan pengobatan kelas terapi terbaru dari obat diabetes, penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor),” katanya kepada wartawan.

Sementara itu, dr. Andi Marsali, Head of Medical Department AstraZeneca Indonesia, mengutarakan bahwa AstraZeneca adalah perusahaan yang senantiasa mengedepankan kepentingan pasien dan melandaskan semua riset dan pengembangannya untuk meningkatkan hasil (outcome) dari manajemen pasien, terutama pasien DM tipe2, termasuk studi CVD-Real yang diprakarsai oleh AstraZeneca.

Studi ini pun ditujukan untuk mengetahui dan membuktikan bahwa pemberian obat kelas terapi terbaru penghambat SGLT2 dapat menurunkan angka rawat di rumah sakit akibat gagal jantung dan kematian akibat berbagai sebab hingga separuhnya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *