Air dan CO2, bisa jadi bahan bakar

Karbon dioksida (CO2) di atmosfer dilaporkan terus meningkat dengan cepat pada tahun ini. Pada bulan Mei saja telah meningkat pada 414,7 bagian per juta (ppm). Itu berdasarkan pemantauan Atmospheric Observatory Baseline Observatory milik NOAA, Mouna Lao, Amerika Serikat (AS).

NOAA menarik kesimpalan itu setelah melakukan pemantauan. Menurutnya, seperti dilansir situs sciencedaily.com (4/6/2019), kadar CO2 sebanyak itu merupakan yang tertinggi sejak 61 tahun. Bahkan tertinggi kedua setelah lontaran gunung berapi di Hawaii. Sejak 61 tahun kadar CO2 terus menyusut tajam.

Menurut NOAA, nilai pucnak CO2 tahun ini 3,5 ppm lebih tinggi dari puncak 411,2 ppm pada Mei 2018 lalu. Nilai CO2 bulanan di Mauna Loa pertama kali menembus ambang batas 400 ppm pada tahun 2014.

“Sangat penting untuk memiliki pengukuran CO2 jangka panjang yang akurat ini untuk memahami seberapa cepat polusi bahan bakar fosil mengubah iklim kita,” kata Pieter Tans, ilmuwan senior di Divisi Pemantauan Global NOAA.

Ini adalah pengukuran atmosfer nyata. Mereka tidak bergantung pada model apa pun, tetapi mereka membantu kami memverifikasi proyeksi model iklim, yang jika ada, telah meremehkan laju cepat perubahan iklim yang diamati.”

Konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat setiap tahun, dan laju peningkatannya semakin cepat. Tahun-tahun awal di Mauna Loa melihat peningkatan tahunan rata-rata sekitar 0,7 ppm per tahun, meningkat menjadi sekitar 1,6 ppm per tahun pada 1980-an dan 1,5 ppm per tahun pada 1990-an.

Tingkat pertumbuhan naik menjadi 2,2 ppm per tahun selama dekade terakhir. “Ada banyak bukti yang meyakinkan bahwa percepatan ini disebabkan oleh peningkatan emisi,” kata Tans.

Data Mauna Loa, bersama dengan pengukuran dari stasiun pengambilan sampel di seluruh dunia, dikumpulkan oleh Jaringan Referensi Gas Rumah Kaca Global NOAA dan menghasilkan dataset penelitian dasar untuk ilmu iklim internasional. (sgh)