APP Sinar Mas Resmikan Stasiun Penelitian Humus

Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas meresmikan Stasiun Penelitian Humus Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK-BB) yang terletak di Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Stasiun penelitian ini diharapkan dapat menambah kelengkapan Cagar Biosfer GSK-BB sebagai kawasan konservasi, lanskap alami, pemukiman, dan kawasan budidaya. 

Acara peresmian ini didahului dengan Forum Koordinasi Pengelolaan Cagar Biosfer GSK-BB pada Senin, 29 April 2019, yang bertujuan untuk berbagi peran dalam pengelolaan Cagar Biosfer GSK-BB antara seluruh pihak pemangku kepentingan.

Forum koordinasi ini meliputi kegiatan konsultasi, advokasi, pembangunan sosial ekonomi, pembangunan kapasitas sumber daya manusia, dukungan pendanaan, dan pengembangan perencanaan program yang relevan dengan konsep cagar biosfer. 

Menurut keterangan persnya (30/4/2019), Giam Siak Kecil – Bukit Batu pertama kali ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO pada tahun 2009. Tujuan utama dari Cagar Biosfer GSK-BB ini adalah menyeimbangkan antarapeningkatan pembangunan sosial ekonomi dan memelihara nilai-nilai budaya masyarakat dengan pelestarian keanekaragaman hayati.

APP Sinar Mas bersama dengan Pemerintah Daerah Riau, LIPI, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini.

Langkah yang telah diambil mencakup memfasilitasi konservasi alam, pembangunan berkelanjutan yang melibatkan penduduk sekitar, serta pemantauan dan peninjauan keadaan lingkungan berbasis ilmu pengetahuan. 

“Selama ini sudah banyak peneliti seperti mahasiswa, akademisi, atau dosen-dosen yang datang ke GSK-BB untuk melakukan riset dan kami menyadari pentingnya sarana prasarana yang menunjang penelitian untuk menjadi lebih baik,” tutur Direktur Sustainability & Stakeholder APP Sinar Mas Elim Sritaba.

“Maka dari itu kami harapkan, keberadaan stasiun penelitian ini dapat mendukung dan bermanfaat bagi riset-riset yang akan dilakukan selanjutnya.” 

Selain membantu riset para akademisi, pendirian stasiun penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan untuk membekali masyarakat sekitar terhadap pentingnya pembangunan berkelanjutan. 

Ketua Komite Nasional Program MAB-UNESCO Indonesia dan Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Prof Dr. Enny Sudarmonowati menilai, masyarakat setempat perlu dirangkul dan berperan dalam menjaga Cagar Biosfer GSK-BB. 

Dalam Cagar Biosfer GSK-BB, terdapat tiga zona utama, yakni zona inti di mana terdapat dua kawasan suaka margasatwa, zona penyangga, dan zona transisi.

“Jika kita dapat menyosialisasikan bagaimana memanfaatkan zona penyangga dan zona transisi sebaik-baiknya pada masyarakat setempat, sehingga mereka dapat menerima manfaat bahkan meningkatkan pendapatan mereka, dapat diyakini mereka tidak akan mengusik zona inti,” kata Enny.

Oleh karena itu, stasiun penelitian hadir agar penelitian dan pendidikan di tiga zona dapat dikaitkan dengan isu spesifik di cagar biosfer guna memecahkan masalah yang ada.

Stasiun penelitian ini diharapkan dapat mewadahi riset-riset yang berkaitan dengan cara memanfaatkan sumber daya alam dalam zona penyangga dan zona transisi dari Cagar Biosfer GSK-BB.

Dengan demikian masyarakat setempat juga dapat memahami cara meningkatkan pendapatan tanpa merusak lingkungan tempat tinggal mereka.

Sementara itu, Asisten II Bupati Bengkalis Heri Indra Putra. Selama ini pihak Pemda Bengkalis memang belum banyak terlibat, karena belum cukup paham.

Sekarang dengan komunikasi yang intens dengan LIPI ke depannya dapat kita kembangkan cagar biosfer ini, termasuk di sektor pariwisata.” Terima kasih kepada lembaga penelitian dan juga APP Sinar Mas yang selama ini aktif menjadi inisiator sekaligus pendukung keberlanjutan cagar biosfer,” ujar Heri Indra Putra.