Tes Kanker Prostat, Kini Tak Perlu Lama dan Berbelit

Harapan baru bagi penderita kanker prostat. Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Albert Einstein di New York City, Amerika Serikat – bersama ilmuwan dari lembaga riset lainnya – berhasil mengembangkan tes baru untuk mendeteksi risiko metastasis dari kanker prostat.

Tes baru itu, menurut mereka, lebih murah dan lebih cepat daripada metode lain yang tersedia saat ini. Selain itu juga hanya membutuhkan sampel jaringan kecil sel kanker prostat.

Tes baru mendeteksi perubahan jumlah salinan (copy number alterations – CNA), yang merupakan perubahan dalam genom yang mendorong penyebaran tumor kanker. Dengan meneliti kadar CNA dalam sampel darah atau jaringan prostat, dokter spesialis dapat memperoleh gagasan yang lebih baik apakah sel kanker berkembang biak atau tidak.

“Kami telah menunjukkan bahwa CNA dapat dideteksi dengan cepat dan akurat dengan pengujian NG-CNA (Next-Generation Copy Number) generasi baru,” kata Dr. Harry Ostrer, ketua tim peneliti sebagaimana dikutip situs medicalnewstoday.com (28/12/2018).

Dalam makalahnya yang diterbitkan di The Journal of Molecular Diagnostics, mereka menjelaskan bahwa NG-CNA dapat menganalisis 902 situs genom di 194 wilayah genom, yang dapat melakukan keduanya lebih cepat dari tes yang ada dan dengan biaya lebih rendah.

“Sebagai contoh, dengan NG-CNA, biaya ekstraksi DNA, persiapan perpustakaan, dan reagen pengurutan dapat $ 20 hingga $ 40 per sampel, dibandingkan dengan hampir $ 1.000 untuk pengurutan seluruh genom, ” imbuh Ostrer.

Lebih penting lagi, tim mencatat bahwa hasil yang mereka peroleh melalui tes baru lebih mudah dibaca, memungkinkan para dokter memproses ribuan sampel jaringan dalam sekali jalan. NG-CNA juga memiliki waktu penyelesaian yang lebih cepat untuk hasilnya, sekitar 36 jam.

Keuntungan lain dari metode penilaian yang baru dikembangkan ini adalah kemungkinan penyimpangan hasilnya sangat rendah. “Ini [memungkinkan] pendekatan kami untuk beralih dari laboratorium rujukan besar ke laboratorium independen yang lebih kecil dan terbatas sumber daya sesuai kebutuhan.”

Selain itu, dengan NG-CNA sampel yang harus dikumpulkan itu lebih kecil dari tes lain yang saat ini sudah digunakan. Ukuran sampel bisa serendah 12,5 nanogram. Jumlah itu cukup memungkinkan dokter spesialis untuk menganalisis garis sel, sampel biopsi, dan sampel bedah.

Ini merupakan keberhasilan temuan mereka kedua. Sebelumnya, tim mengembangkan indikator baru risiko metastasis yang disebut “skor potensial metastatik” (MPS).

Ostrer dan tim menggunakan NG-CNA untuk menentukan MPS dalam 70 sampel bedah kanker prostat. Setelah membandingkan hasil tes itu, para peneliti tadi menemukan bahwa mereka “sangat berkorelasi.”

Tim juga memvalidasi tes NG-CNA menggunakan kelompok sampel bedah kedua yang mereka cocokkan dengan jaringan biopsi.

“Kami percaya bahwa penambahan uji NG-CNA ke platform pengujian gen kanker standar akan menambah obat yang dipersonalisasi dengan mengidentifikasi tumor agresif dan mutasi genetik yang merupakan prediktor respons terhadap terapi yang ditargetkan,” sambung Ostrer.

Dengan alat temuan Ostrer ini, pasien yang didiagnosis kanker prostat pertama kali dan telah menjalani perawatan sebelumnya, perlu menjalani tes untuk menentukan risiko metastasis mereka. Jika risiko penyebaran kanker tinggi, dokter mungkin menyarankan orang tersebut untuk melanjutkan dengan jenis terapi yang lebih agresif.

Tentu temuan ini menggembirakan. Ini karena bakal mempercepat diagnosa dan dapat mencegah kanker prostat menyebar ke organ lain atau metastase.

Menurut National Cancer Institute, Amerika Serikat, sekitar 11,2 persen pria didiagnosa kanker prostat.

Pada 2015 – tahun terbaru dimana datanya tersedia – diperkirakan 3.120.176 pria di Amerika Serikat hidup dengan kanker prostat.