Kesehatan

Teknik PEMF Bisa Atasi Patah Tulang

Di negara-negara berkembang, kecelakaaan lalu lintas merupakan penyebab no 3 tertinggi kematian pada usia produktif setelah HIV dan tembakau.

Di Indonesia, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 16.6 per 100.000 jiwa. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan kecelakaan lalu lintas juga menjadi penyebab utama kasus fraktur atau patah tulang di Indonesia yaitu sebesar 56.7 %.

Pada umumnya fraktur dapat sembuh dengan normal, namun juga dapat mengalami komplikasi berupa delayed union dan non-union  yaitu fraktur yang tidak menunjukkan proses penyembuhan setelah  3 bulan paska cedera.

Fraktur pada tulang panjang menunjukkan prevalensi komplikasi ini berkisar 2.5-46%, bergantung kepada derajat fraktur yang terjadi pada tulang, jaringan lunak dan struktur vaskuler.

Komplikasi non union dan delayed union merupakan komplikasi yang paling sulit dan memerlukan biaya yang besar dalam terapinya. Beberapa strategi bertujuan untuk meningkatkan penyembuhan fraktur secara klinik, yaitu umumnya penggunaan stimulus biologi.

Stimulus biofisika salah satunya pulsed electromagnetic field (PEMF) telah disetujui oleh FDA untuk mendorong kecepatan penyembuhan fraktur.

“Namun kelemahan utama metode ini adalah belum diketahui mekanisme kerja stimulus tersebut dalam mempengaruhi respon molekuler, seluler dan jaringan pada proses penyembuhan fraktur,” kata Umiatun.

Hal ini menyebabkan penggunaan modalitas PEMF masih kontroversi.

Namun Umiatin, S.Si, M.Si, membuktikan manfaat dari PEMF, dalam studi doktoralnyanya yang digelar hari ini di FKUI, Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Ia melakukan proses studi dua tahap. Penelitian tahap pertama yaitu mendesain dan membuat alat PEMF sehingga dapat digunakan untuk penelitian berkelanjutan.

Tahap kedua merupakan penelitian dengan menggunakan 48 hewan coba tikus jenis Spraque-Dawley yang diinduksi fraktur model delayed union yang selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol (tanpa pajanan PEMF) dan kelompok perlakuan (pajanan PEMF).

Jaringan tulang baru (kalus tulang) pada area fraktur diambil untuk dianalisis struktur mikroskopisnya dan dianalisis gen penanda jalur sinyal Wnt yang terekspresi. Darah tikus diambil untuk digunakan analisis penanda pembentukan tulang yaitu alkaline phosphatase.

Pemeriksaan dilakukan pada hari ke 5, 10, 18 dan 28 paska tikus diinduksi fraktur.

Hasilnya menunjukkan pajanan PEMF meningkatnya penyembuhan fraktur yang ditandai dengan peningkatan pembentukan tulang pada hari ke 18, peningkatan kadar alkaline phosphatase dan peningkatan ekspresi gen penanda sel pembentuk tulang yaitu Wnt5a, Wnt10b dan β-catenin.

“Hasil studi ini dapat mendorong masyarakat akademik dan peneliti untuk melakukan kerjasama penelitian multidisiplin berkelanjutan dalam mengembangkan modalitas PEMF sebagai sarana penunjang terapi fraktur,” ujarnya dalam rilisnya. 


Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/wartabug/public_html/wp-content/themes/vmagazine-lite/inc/vmagazine-lite-functions.php on line 704

Comment here