Novartis keluarkan obat baru secukinumab

Novartis meluncurkan obat baru untuk penyakit ankylosing spondyltiis (AS) dan psoriatic arthritis (PsA). Obat bernama secukinumab itu telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan pada Januari lalu. Pada Kamis (21/3/2019) obat tersebut diperkenalkan kepada sejumlah media di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta Pusat.

Secukinumab dinilai efektif mampu membantu pasien psoriasis untuk mendapatkan kembali kulit yang bersih hingga 90%.

“Tersedianya secukinumab sebagai salah satu pilihan terapi agen biologik, diharapkan dapat membantu menjawab kebutuhan pengobatan pasienAS dan PsA di Indonesia agar bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik,” papar DR. dr. Rudy Hidayat, rematolog pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

Agen biologik merupakan salah jenis obat rematik yang terbaru. Ini merupakan alternatif penatalaksanaan selain obat-obatan non-steroid anti-inflamasi (NSAID), obat anti-reumatik (DMARDs).

Beberapa alternatif penatalaksanaan yang tersedia saat ini, baik untuk AS maupun PsA, lebih banyak bertujuan untuk memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, meningkatkan kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal, dan mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan.

Selain menggunakan obat untuk mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan, kata Rudy, pasien penderita AS dan PsA juga dapat melakukan terapi fisik.

“Terapi ini berperan penting dalam perawatan, karena dapat membantu menghilangkan rasa sakit hingga peningkatan kekuatan dan fleksibilitas,” sambungnya dalam keterangan persnya (22/3/2019).

Pasien AS dan PsA dapat melakukan latihan rentang gerak dan peregangan untuk membantu menjaga kelenturan sendi, serta mempertahankan postur tubuh yang baik. “Posisi tidur dan berjalan yang tepat serta olah raga perut dan punggung dapat membantu menjaga postur tubuh tegak,” ucap Rudy.

Sementara itu, Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, memaparkan komitmen Novartis Indonesia dalam meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat seputar isu kesehatan.

“Pasien adalah prioritas kami yang utama. Sebagai perusahaan kesehatan inovatif, Novartis berupaya untuk terus-menerus menemukan cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien kami melalui penyediaan obat-obatan yang berkualitas,” katanya. Selain itu tak kalah pentingnya menjalankan program-program edukasi kesehatan, serta menjalin kemitraan dengan pihak-pihak terkait.

Berdasarkan laporan WHO:‘Global Report on Psoriasis’ di tahun 2016, sampai dengan 34,7 persen pasien penderita psoriasis mengalami radang sendi kronis (PsA) yang mengarah pada deformasi sendi dan kecacatan.

Sementara itu,AS adalah gangguan peradangan kronis yang melibatkan sendi sakroiliaka dan tulang belakang. Hal ini terkait dengan gejala klinis yang berkaitan dengan persendian maupun di luar persendian, termasuk radang sendi perifer, peradangan entesis, peradangan pada mata (uveitis anterior), psoriasis, dan penyakit peradangan usus.