Ini Bahaya Minum Teh Panas

Hati-hati minum teh panas. Sebab studi terbaru yang dimuat dalam situs medicalnewstoday.com (23/3/2019), menemukan hubungan antara minum teh pada suhu yang sangat tinggi dan ber terkena kanker kerongkongan.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Farhad Islami, direktur strategis Cancer Surveillance Research di American Cancer Society, mempelajari kebiasaan minum teh secara prospektif.

Dalam studi tersebut, Islami dan rekannya menggunakan data lebih dari 50.000 orang yang termasuk dalam Studi Kelompok Golestan – sebuah “studi prospektif berbasis populasi” – yang melibatkan orang berusia 40-75 tahun pada awal penelitian.

Para peneliti secara klinis memantau peserta selama periode rata-rata 10,1 tahun, antara 2004 dan 2017. Selama waktu ini, 317 orang menderita kanker kerongkongan.

Para peneliti membagi suhu teh menjadi “sangat panas” – yang berarti suhu lebih dari 60 ° C, dan “dingin [atau] suam-suam kuku,” yaitu, suhu yang berada atau turun di bawah 60 ° C.

Dalam analisis mereka, para peneliti juga mempertimbangkan “waktu yang dilaporkan lebih singkat dari menuangkan teh ke minum” itu – yaitu, dalam skala antara 2 dan 6 menit menunggu, serta “melaporkan preferensi untuk minum teh yang sangat panas.”

Secara keseluruhan, riset tersebut menemukan bahwa orang yang minum 700 mililiter (ml) teh “sangat panas” per hari meningkatkan kemungkinan ia kanker esofagus hingga 90 persen dibandingkan dengan minum teh dingin atau hangat dalam jumlah yang sama setiap hari.

“Hasil kami secara substansial memperkuat bukti yang ada yang mendukung hubungan antara minum minuman panas dan [risiko kanker kerongkongan],” ujar Islami. Islami menyarankan agar orang yang meminum teh panas, harus menunggu suhu air teh itu [lebih rendah dari] 60 ° C sebelum dikonsumsi.

Anjuran itu penting lantaran menurut American Cancer Society, pada tahun 2019, akan ada sekitar 17.650 kasus baru kanker kerongkongan dan lebih dari 16.000 orang akan meninggal karenanya.

Lembaga memperkirakan bahwa sekitar 20 persen orang dengan kanker kerongkongan terus hidup selama 5 tahun setelah diagnosis.

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kerongkongan. Ini termasuk usia di atas 55 tahun, laki-laki, menderita penyakit GERD, atau makan makanan yang mengandung daging olahan dan rendah buah-buahan dan sayuran.

Beberapa peneliti juga menyarankan bahwa minum cairan yang sangat panas secara teratur juga dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan.