Suhardjono mengatakan penduduk di atas 25 tahun terkena hipertensi

Ini peringatan buat generasi milenial. Mulai dari sekarang hindari faktor risiko hipertensi. Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, K.Ger mengatakan, berdasarkan data WHO 2018, prevalensi hipertensi di dunia sebesar 40 persen dan rata-rata dimulai pada usia 25 tahun.

Menurut data RISKESDAS 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen. Faktor risiko hipertensi dapat dilihat dari dua sisi yaitu disebabkan oleh faktor penyerta lain seperti kerusakan organ (jantung, ginjal atau penyakit kardiovaskular lainnya).

Selain itu, ada faktor lingkungan atau gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan serba instan dan konsumsi garam berlebih.

“Faktor lainnya yaitu faktor usia, dikatakan semakin tinggi umur seseorang maka semakin tinggi angka tekanan darahnya, biasanya lebih banyak terjadi pada laki-laki di atas usia 50 tahun, sedangkan bagi perempuan di usia 65 tahun saat post-menopause,” ujar Suhardjono pada jumpa pers di Hotel Sheraton, Gandaria City, jakarta Selatan seperti dalam keterangan persnya (23/2/2019).

Ia menambahkan, pada intinya, hipertensi harus diobati, semakin cepat lebih baik, karena jika tidak segera diobati dapat menimbulkan kerusakan target organ, infark jantung, stroke, gagal ginjal, vaskular yang berakibat buruk sehingga dapat menimbulkan kematian dan kecacatan.

Pengobatan hipertensi juga ditujukan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dengan cara mengendalikan maksimal semua faktor risiko yang ada.

“Kami menghimbau, masyarakat mau melakukan pencegahan dengan menerapkan modifikasi gaya hidup, makan sehat, olah raga teratur dan patuh terhadapat pengobatan hipertensi yg saat ini mudah didapatkan, serta melakukan deteksi dini tekanan darah baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan yang ada,” imbuh Suhardjono.

Tentang generasi milenial, dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP menjelaskan, salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum milenial. Studi epidemiologi di AS menemukan sebanyak 7,3 persen kaum milenial (dewasa muda usia 18-39 tahun) terkena hipertensi dan sebanyak 23,4 persen termasuk kategori pre-hipertensi.

Gaya hidup yang dimaksud lebih mengarah pada aktivitas fisik yang berkurang dikarenakan semakin berkembangnya fasilitas yang ada seperti lift yang membuat masyarakat semakin jarang menggunakan tangga, kebiasaan merokok, makanan instan dan cepat saji yang banyak mengandung msg yang jika sering dikonsumsi akan meningkatkan risiko hipertensi. Faktor psikososial seperti stress akibat pekerjaan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.

“Hipertensi disebut juga sebagai penyakit silent killer atau penyakit yang tidak menimbulkan tanda-tanda khusus. Rata-rata kaum miilenial diketahui terkena hipertensi saat melakukan medical check-up, itu pun jika ada program dari kantornya,” kata Paskariatne.

Sebenarnya hal ini tidak dapat disepelekan, apabila kaum milenial tidak sadar dengan faktor risiko yang ada, maka dapat menimbulkan penyakit berat seperti stroke, ginjal dan jantung.

Maka dari itu, penting untuk meningkatkan awareness masyarakat dengan melakukan deteksi dini atau mengukur tekanan darah sendiri di rumah, apalagi sekarang sudah ada alat pengukur tekanan darah digital yang lebih memudahkan masyarakat dalam mengukur, jadi seharusnya sudah tidak ada hambatan.

Selain itu, pencegahan hipertensi juga dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi garam makanan instan atau cepat saji yang mengandung MSG, perbanyak aktivitas fisik dan pola hidup sehat lainnya,” tutupnya.