Almarhum Steve Jobs Pun Pernah Jajal Terapi Alternatif

Banyak orang yang memilih mengonsumsi obat herbal atau terapi alternative daripada menjalani pengobatan modern untuk mengatasi kankernya. Namun tak banyak orang yang berani memberitahu dokter tentang penggunaan suplemen selama menjalani terapi alternatif.

Kasus paling terkenal adalah pendiri Apple Steve Jobs, yang dilaporkan menggunakan diet khusus, akupunktur, dan alternatif lain setelah menerima diagnosis kanker pankreas. Dia baru beralih ke pengobatan modern di akhir pertempurannya melawan . Namun terlambat dan semua pengobatan itu tak bisa menyelamatkan nyawanya. Jobs akhirnya meninggal pada tahun 2011.

Salah satunya adalah Nancy Myers. Ia sudah menggunakan obat herbal selama terapi kanker dalam rentang 2015-2017. Namun, ia selalu berkonsultasi dengan dokter. “Saya akan bertanya kepada dokter, ‘Bisakah saya?’ dan semua orang berkata, ‘Tidak, kami tidak tahu bagaimana itu berinteraksi dengan obat konvensional Anda,’ jadi saya menghargai itu, “kata ibu empat anak berusia 47 tahun itu.

Selama pengobatan ia rajin mengonsumsi kunyit, omega-3, vitamin D, dan vitamin B6. “Saya punya banyak teman dalam perjalanan kanker ini. Mereka  yang saya temui mengonsumsi suplemen. Seorang wanita yang saya temui baru-baru ini membutuhkan 75 suplemen setiap hari. Butuh dua jam untuk mengemas suplemennya setiap minggu,” sambungnya.

Myers mengatakan setiap orang dalam kelompok pendukung kankernya menggunakan beberapa jenis pengobatan alternatif. Selain suplemen, ia berlatih meditasi dan yoga dengan bimbingan melalui aplikasi smartphone.

“Itu yang bisa kita kontrol. Kita tidak bisa mengendalikan seluruh kanker,” katanya. “Ini membantu karena mengalihkan pikiranmu hanya dengan memikirkannya,” ujar Myers.

Dia mengatakan beberapa penderita kanker yang hanya menggunakan pengobatan alternatif – tanpa pengobatan modern. Ini adalah pendekatan berbahaya yang bisa berakibat fatal.

Beberapa dokter bukannya menolak pengobatan alternative, tetapi harus dilihat dalam kondisi apa yang tengah dijalani pasien. Sedangkan meditasi dan yoga diperbolegkan karena dapat membantu pasien mengatasi goncangan diagnosis kanker dan tekanan kemoterapi, radiasi, dan pembedahan.

Lihatlah Belindy Sarembock, 53 tahun. Warga Dallas, Amerika Serikat, itu mengatakan dia berlatih yoga selama pengobatan kanker payudara. Dia semula skeptis tentang yoga, namun belakangan ia menyadari manfaatnya.

“Saya adalah orang yang akan menertawakan yoga sebelum kanker payudara, tetapi sekarang itu sangat membantu saya,” ujar Sarembook. “Itu sangat santai, aku merasa sangat baik setelah aku pergi. Ini sangat damai. Untuk tubuhmu, aku tidak bisa memikirkan hal yang lebih baik dari itu.”

Dia mengatakan dia menderita neuropati atau kerusakan saraf akibat kemoterapi, dan yoga menghilangkan rasa sakitnya. “Saya tidak bisa merasakan jari kaki saya. Setelah kedua kalinya pergi yoga, saya bisa melanjutkan aktivitas,” sambungnya.