Gejala Stroke Bisa Berupa Gejala Flu

Hati-hati jika mengalami gejala-gejala seperti terkena flu. Siapa tahu itu bukan flu, melainkan gejala serangan stroke. Sebab, studi terbaru yang digarap ilmuwan tim dari Universitas Colombia di New York City, New York, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kemungkinan mengalami stroke secara signifikan lebih tinggi setelah flu atau penyakit serupa flu.

Dalam situs medicalnewstoday.com (1/2/2019), para ilmuwan mengambil kesimpulan tersebut usai melihat catatan medis 30.912 orang dari pasien rawat inap dan rawat jalan karena stroke iskemik (penggumpalan darah) di New York Statewide pada periode 2012-2014. Mereka kemudian mencari insiden rawat inap akibat penyakit seperti flu dalam 2 tahun sebelum stroke.

Apa yang mereka temukan adalah peningkatan hampir 40 persen dalam kemungkinan terkena stroke dalam waktu 15 hari setelah dirawat di rumah sakit dengan gejala mirip flu. Secara keseluruhan, risiko mengalami stroke, pada kenyataannya, meningkat hingga 1 tahun.

Yang menarik pula, orang-orang yang tinggal pedesaan yang mengalami flu juga mengalami kemungkinan terkena stroke. “Kami menemukan hubungan antara penyakit mirip flu dan stroke serupa antara orang yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan, serta untuk pria dan wanita, dan di antara kelompok ras,” ujar Profesor Amelia K. Boehme, PhD., ahli epidemiologi neurologi untuk Vagelos College of Physicians and Surgeons Universitas Columbia.

Boehme belum mengetahui dengan jelas hubungan antara penyakit seperti flu dan stroke. Namun peradangan yang disebabkan oleh penyebab flu bisa ditengarai sebagai faktornya. Bukti lebih lanjut yang mengaitkan infeksi seperti flu dengan peningkatan risiko mengalami stroke juga akan dipresentasikan pada Konferensi Stroke Internasional minggu depan.

Madeleine Hunter, juga dari Vagelos College of Physicians and Surgeons di Columbia University, mengkaji 3.861 kasus medis dari diseksi arteri serviks nontraumatic pertama dalam Departemen Negara Bagian Kesehatan Negara Bagian New York State Planning and Research Cooperative System and Research Cooperative System (2006-2014).

Hunter dan koleganya melihat adanya robekan di pembuluh darah arteri leher (diseksi arteri serviks). Ini diduga menyebabkan penyempitan ruang pembuluh darah, sehingga membatasi atau menghentikan aliran darah. Diseksi arteri serviks merupakan faktor risiko stroke yang diketahui terdapat pada pasien yang berusia 15-45 tahun.

Hunter mengungkapkan bahwa hampir setengah dari orang-orang yang mereka tinjau juga pernah mengalami flu atau penyakit serupa flu dalam 3 tahun sebelum robekan arteri. Biasanya diseksi tersebut baru terjadi 30 hari setelah flu. “Hasil kami menunjukkan bahwa risiko diseksi memudar dari waktu ke waktu setelah flu. Tren ini menunjukkan bahwa penyakit seperti flu memang dapat memicu diseksi,” tuturnya.

Menanggapi dua temuan tadi, Profesor Philip B. Gorelick, ahli ilmu translasi dan kedokteran molekuler di Sekolah Tinggi Kedokteran Manusia Universitas Michigan di Grand Rapids, Amerika Serikat, mengakui ada hubungan tersebut. berkomentar tentang temuan kedua studi tersebut.

“Jika Anda tengah menderita flu dan Anda akan memiliki gejala lain yang konsisten dengan stroke. Seperti kelemahan pada wajah, lengan, atau kaki di satu sisi atau keduanya, sulit berbicara, bicara cadel, kehilangan penglihatan pada satu atau kedua mata, terhuyung-huyung di sekitar, Anda bisa memiliki arteri yang dibedah atau penyebab stroke lainnya,” ucap Gorelick. Maka, ia memandang vaksinasi flu diperlukan untuk mencegah flu sekaligus kemungkinan serangan strok.

Sebelum dua riset di atas, sejumlah studi kecil pernah dikerjakan pada 2015. Hasil studinya memperlihatkan bahwa anak-anak enam kali lebih mungkin mengalami stroke jika mereka memiliki infeksi – kebanyakan infeksi saluran pernapasan atas – selama minggu sebelumnya.

Lalu pada tahun 2018, sebuah studi yang muncul dalam European Respiratory Journal melihat catatan medis 762 orang yang tinggal di Skotlandia yang pernah mengalami stroke. Para peneliti menemukan peningkatan risiko stroke dalam 28 hari setelah infeksi pernapasan yang disebabkan oleh virus.