Kena Kanker Serviks? Coba Minum Kurkumin

Kurkumin sudah lama dikenal sebagai senyawa yang terkandung dalam beberapa tanaman. Khasiatnya pun banyak seperti untuk penyakit liver, sistem imun, dan sebagainya. Studi terbaru menunjukkan bahwa kurkumin juga efektif untuk menyembuhkan penyakit kanker serviks (mulut rahim).

Kanker serviks merupakan salah satu kanker terbanyak yang diderita perempuan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia (569.847 kasus pada tahun 2018).

Tujuh puluh persen kasus datang pada stadium lanjut(IIB–IVA) yang hanya bisa diterapi dengan radiasi, namun hanya sepertiga saja yang kankernya hilang setelah radiasi.

Untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, dibutuhkan penambahan obat. Salah satu obat herbal yang telah dilakukan uji coba pada biakan sel adalah kurkumin.

Kurkumin, seperti dikutip dari siaran pers Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merupakan ekstrak rimpang yang salah satunya berasal dari kunyit yang banyak tumbuh di Indonesia.

Namun begitu, kata dr. Sigit Purbadi, SpOG, sampai tahun 2014 tidak ada studi kurkumin yang diteliti untuk mengobati kanker servik yang terjadi pada manusia.

Maka, Sigit, tertarik ingin membuktikan peningkatan efek kurkumin yang dikombinasikan dengan terapi radiasi. Sigit mendapatkan gelar doktor lewat riset yang promosinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba Jakarta Pusat, yang dilakukan pada Senin (14/1/2019).

Dalam riset tersebut, Sigit mengakui bahwa kurkumin sangat sedikit sekali yang masuk ke pembuluh darah. “Maka perlu diolah dengan menambah piperin,” ujarnya dalam disertasinya.

Proses ini dilakukan secara khusus agar kurkumin bisa masuk ke darah dan berhasil masuk ke sel kanker. Karena Indonesia belum memiliki kurkumin yang mendapat ijin untuk digunakan pada manusia, maka peneliti membeli dari Dolcas Biotech LLC, Amerika Serikat.

Kurkumin jenis ini bernama BCM95. Bagaimana soal keamanannya?
“BCM95 aman digunakan pada manusia,” kata Sigit.

Studi tersebut melibatkan 195 pasien kanker serviks stadium IIIB jenis sel skuamosa dari November 2016 – September 2018 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang mendapatkan terapi radiasi kombinasi BCM-95 dan terapi radiasi kombinasi plasebo. Pasien yang mengikuti penelitian ini minum kurkumin 3 g sehari selama 9 minggu.

Dari penelitian ini dinilai efek terapi kurkumin pada tingkat molekul dengan mengukur MDA, NfkB dan kematian sel.Hasil akhir dari studi itu adalah respon terapi pasien yang dinilai dengan menggunakan MRI, apakah massa kanker hilang seluruhnya atau masih ada sisa. 

Hasilnya, efek kurkumin terlihat di tingkat molekul, walaupun tingkat peningkatannya belum seperti yang diharapkan. Penyebab belum tercapainya efek peningkatan seperti yang diharapkan itu merangsang peneliti untuk melakukan penelitian berikutnya dengan mengembangkan teknologi nano.

Pada saat ini, Sigit sedang bekerja sama dengan para pakar untuk mengembangkan ekstrak kunyit ini sebgai obat anti kanker.

Semoga suatu saat peneliti bisa mewujudkan ekstrak kunyit yang bernama kurkumin ini sebagai obat anti kanker.