serangan jantung dapat terjadi di perjalanan (

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 17,5 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada tahun 2012, atau diperkirakan 3 dari 10 kematian yang terjadi. 

Di Indonesia, kejadian Penyakit Jantung Koroner (PJK) pada tahun 2018 mencapai 1,5% dengan kasus serangan jantung mencapai 14%. Pasien penyakit ginjal kronik atau lebih dikenal dengan gagal ginjal mempunyai risiko terkena serangan jantung tinggi dan ketika terkena serangan jantung memiliki risiko untuk mendapatkan komplikasi sampai dengan kematian juga lebih tinggi. 

Atas dasar itu, dr. Eka Ginanjar, SpPD-KKV melakukan riset doktornya yang berjudul: Pengaruh Beta2-Mikroglobulin dan Fibroblast Growth Factor 23 terhadap Keparahan Koroner dan Major Adverse Cardiac Event pada Pasien Sindrom Koroner Akut dengan Penyakit Ginjal Kronik.

Seperti dalam keterangan persnya, Eka berhasil mempertahankan disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat (23/5/2019).

Dalam penelitian tersebut, Eka berupaya menjawab fenomena itu dengan menggunakan beta2-mikroglobulin (β2-M) sebagai penanda peradangan dan fibroblast growth factor 23 (FGF23) sebagai penanda proses yang disebut  Chronic Kidney Disease-Mineral and Bone Disorders (CKD-MBD).

Studi ini dilaksanakan di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta dengan melibatkan 117 pasien dari Januari sampai dengan Oktober 2018. Pasien serangan jantung dengan gagal ginjal dievaluasi dan periksa darahnya.

Hasilnya, Eka menemukan sebuah teori baru yaitu reaksi peradangan akut yang timbul saat serangan jantung, yang semakin hebat reaksi peradangannya sejalan dengan bertambahnya stadium gagal ginjal pasien. Komplikasi dan kematian yang terjadi juga menjadi semakin berat.

Penelitian ini juga membuktikan bahwa proses kronik memang terjadi pada gagal ginjal sehingga menyebabkan penyakit jantung koroner, penebalan otot jantung dan gagal jantung, tetapi proses ini membutuhkan waktu lama untuk dapat menyebabkan komplikasi pada saat terjadi serangan jantung.

Hal ini terbukti dengan komplikasi yang terjadi, dari penelitian ini didapatkan yang terbanyak adalah  gagal jantung sesuai dengan proses kronik yang terjadi.

Disertasi Eka juga mengungkapkan bahwa serangan jantung menyebabkan reaksi sistemik peradangan akut yang terjadi diatas proses kronik yang sedang terjadi sehingga menyebabkan komplikasi dan kematian lebih banyak.

Hasil penelitian ini, menurut Eka, sangat bermanfaat di dunia kedokteran terutama telah berhasil menguak penyebab banyaknya pasien gagal ginjal yang mengalami komplikasi dan kematian saat terjadi serangan jantung.

Studi ini menambah cakrawala baru tentang proses peradangan akut yang sangat tinggi terjadi pada pasien serangan jantung yang juga mengalami gagal ginjal sebelumnya.

Penemuan ini dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya guna menemukan obat, metode atau teknik untuk mencegah atau menekan reaksi peradangan akut ini. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi kematian dan kesakitan pada pasien gagal ginjal terutama saat terjadi serangan jantung. (hkw)