Kedutaan Kanada

Sebuah studi interdisipliner baru tentang “Sindrom Havana” yang dipimpin oleh Dr. Alon Friedman MD dari Universitas Ben-Gurion of Negev (BGU) di Israel dan Pusat Perbaikan Otak Universitas Dalhousie di Nova Scotia, Kanada, menunjukkan bahwa paparan pestisida yang berlebihan kemungkinan terjadi.

Sindrom Havana dapat menyebabkan gejala neurologis di antara diplomat Kanada yang tinggal di Havana, Kuba pada 2016. Ini adalah studi pertama dari jenisnya yang berfokus pada diplomat Kanada.

Seperti dilansir situs scitechdaily.com (6/10/2019), “Havana Syndrome” adalah nama yang diberikan untuk gejala yang awalnya diyakini sebagai serangan akustik terhadap staf kedutaan AS dan Kanada, pertama kali dilaporkan di Kuba. 

Mulai Agustus 2017, muncul laporan bahwa personil diplomatik Amerika dan Kanada di Kuba telah menderita berbagai masalah kesehatan termasuk sakit kepala dan kehilangan keseimbangan, serta kesulitan tidur, konsentrasi, dan ingatan.

Untuk memastikan temuan Dr. Friedman dan timnya ditafsirkan dan dipahami dengan tepat, Dr. Friedman memilih untuk membahas penelitiannya sebelum publikasi peer-review dengan Canadian Broadcasting Service yang memperoleh draft laporan kepada pemerintah Kanada, dibocorkan oleh sumber yang tidak diketahui .

Penelitian ini akan dipresentasikan di Breaking the Barriers of Brain Science Simposium di New York pada hari Minggu, 27 Oktober mendatang.

Studi ini merinci sifat cedera, menentukan daerah otak yang terlibat, termasuk penghalang darah-otak dan menyarankan kemungkinan penyebab dalam bentuk “inhibitor cholinesterase,” dengan “insektisida organofosforus” sebagai sumber yang mungkin. Cholinesterase (ChE) adalah salah satu enzim kunci yang diperlukan untuk berfungsinya sistem saraf manusia, invertebrata, dan serangga.

Secara total, ada 26 peserta Kanada: 23 diplomat Kanada dan anggota keluarga mereka yang tinggal di Havana dimasukkan dalam penelitian ini, serta individu yang tidak tinggal di Kuba.

“Kami juga dapat menguji beberapa subjek sebelum dan sesudah mereka kembali dari Kuba,” kata Dr. Friedman. “Tim kami melihat perubahan di otak yang pasti terjadi selama mereka berada di Havana.”

Friedman dan timnya menghubungkan temuan penelitian ini dengan metode penelitian multidisiplin dan kuantitatif, khususnya, penggunaan alat pencitraan otak baru termasuk teknik Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan magnetoencephalography.

“Kami mengikuti sains, dan dengan setiap penemuan kami mengajukan lebih banyak pertanyaan kepada diri kami sendiri,” kata Dr. Friedman. 

“Menentukan dengan tepat lokasi di mana otak terluka adalah faktor penting yang membantu mengarahkan kami untuk melakukan tes darah biokimia dan toksikologi spesifik dan mencapai kesimpulan bahwa penyebab paling mungkin dari cedera itu adalah paparan neurotoksin berulang kali.”

Para peneliti yang terlibat juga mewakili berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu saraf, neurologi, psikiatri, audio-vestibular, oftalmologi, toksikologi dan bahkan kedokteran hewan.

“Studi ini memvalidasi kebutuhan kita untuk terus belajar lebih banyak tentang penggunaan pestisida dan racun lainnya,” kata Dr. Friedman. “Ini adalah masalah kesehatan global yang mengingatkan kita betapa kita masih harus belajar tentang dampak racun terhadap kesehatan kita.”

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.