Hati-hati dengan kanker limfoma. “Kanker Limfoma Hodgkin adalah kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh,” jelas Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPDKHOM, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN). Sehingga jangan dianggap sepele karena penyebarannya relatif cepat. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja. Meski begitu data menunjukkan mayoritas penderitanya ada pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Lebih dari sepertiga kasus ditemukan pada usia 15-30 tahun1 dan menyumbang sekitar 20 persen dari total jumlah kasus limfoma. Secara global, lebih dari 62.000 orang terdiagnosa Limfoma Hodgkin dimana sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Di Indonesia, angka kasus baru Limfoma Hodgkin pada tahun 2012 mencapai sebesar 1.168, dengan jumlah kematian sebesar 687. Menurut data Globocan, angka ini diprediksi akan mengalami peningkatan di tahun 2020, dengan kasus baru sebesar 1.313 serta angka kematian sebesar 811. Angka kematian yang tinggi di Indonesia terkait erat dengan keterlambatan pendeteksian, sehingga mengakibatkan sebagian besar kasus kanker sudah berada pada stadium lanjut. “Sayangnya, karena tidak umum, banyak masyarakat tidak mengenal faktor risiko dan gejalanya,” tambah Arry H. Reksodiputro dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakartra Selatan dalam rilisnya (17/1/2018). Padahal, 80 persen dari kasus Limfoma Hodgkin dapat disembuhkan melalui kemoterapi jika terdeteksi dini. “Untuk itu, penting untuk tidak meremehkan benjolan pada tubuh, meski ukurannya kecil,” tambahnya. Penyebab, Gejala dan Faktor Risiko Gejala paling umum dari Limfoma Hodgkin diantaranya benjolan pada kelenjar getah bening yang ditemui di daerah leher, ketiak dan pangkal paha. Gejala lainnya termasuk demam atau meriang, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas hingga sebesar 10 persen atau lebih, kelelahan yang berlebihan dan kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, batuk yang berkepanjangan, pembesaran limpa dan/atau hati.
Kesehatan

Jangan Anggap Enteng Kanker Limfoma

Hati-hati dengan kanker limfoma. “Kanker Limfoma Hodgkin adalah kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh,” jelas Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPDKHOM, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN). Sehingga jangan dianggap sepele karena penyebarannya relatif cepat.

Penyakit ini dapat menyerang siapa saja. Meski begitu data menunjukkan mayoritas penderitanya ada pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Lebih dari sepertiga kasus ditemukan pada usia 15-30 tahun1 dan menyumbang sekitar 20 persen dari total jumlah kasus limfoma.

Secara global, lebih dari 62.000 orang terdiagnosa Limfoma Hodgkin dimana sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Di Indonesia, angka kasus baru Limfoma Hodgkin pada tahun 2012 mencapai sebesar 1.168, dengan jumlah kematian sebesar 687.

Menurut data Globocan, angka ini diprediksi akan mengalami peningkatan di tahun 2020, dengan kasus baru sebesar 1.313 serta angka kematian sebesar 811. Angka kematian yang tinggi di Indonesia terkait erat dengan keterlambatan pendeteksian, sehingga mengakibatkan sebagian besar kasus kanker sudah berada pada stadium lanjut.

“Sayangnya, karena tidak umum, banyak masyarakat tidak mengenal faktor risiko dan gejalanya,” tambah Arry H. Reksodiputro dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakartra Selatan dalam rilisnya (17/1/2018).

Padahal, 80 persen dari kasus Limfoma Hodgkin dapat disembuhkan melalui kemoterapi jika terdeteksi dini. “Untuk itu, penting untuk tidak meremehkan benjolan pada tubuh, meski ukurannya kecil,” tambahnya.

Penyebab, Gejala dan Faktor Risiko Gejala paling umum dari Limfoma Hodgkin diantaranya benjolan pada kelenjar getah bening yang ditemui di daerah leher, ketiak dan pangkal paha.

Gejala lainnya termasuk demam atau meriang, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas hingga sebesar 10 persen atau lebih, kelelahan yang berlebihan dan kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, batuk yang berkepanjangan, pembesaran limpa dan/atau hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *