Ini Risikonya Mengonsumsi Obat Maag Golongan PPI

Obat sakit maag populer yang disebut inhibitor pompa proton (PPI). Beberapa pasien mengonsumsinya untuk mencegah asam lambung berlebih sehingga naik ke kerongkongan. Karena khasiatnya, obat jenis PPI ini sering dikonsumsi tanpa dosis dan resp dokter.

Padahal, PPI banyak bahayanya. Selain menimbulkan risiko kerusakan ginjal yang serius, patah tulang dan demensia, sebuah studi anyar yang disajikan periset Washington University School of Medicine, St Louis, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu lama bisa memperpendek umur.

Seperti dilansir situs sciencedaily.com (5/7/2017), mereka memeriksa catatan medis dari sekitar 275.000 pengguna PPI dan hampir 75.000 orang yang menggunakan kelas obat lain – yang dikenal sebagai penghambat H2 – untuk mengurangi asam lambung.

Para peneliti lalu memilah-milah jutaan catatan medis veteran yang tidak teridentifikasi dalam database yang dikelola oleh Departemen Urusan Veteran A.S. Mereka mengidentifikasi 275.933 orang yang telah diberi resep PPI dan 73.355 orang meresepkan penghambat H2 antara Oktober 2006 dan September 2008, dan mencatat berapa banyak yang meninggal dan kapan dalam lima tahun ke depan. Basis data tidak memasukkan informasi penyebab kematian.

Ziyad Al-Aly dan rekan menemukan 25 persen peningkatan risiko kematian pada kelompok PPI dibandingkan dengan kelompok penghambat H2. Para peneliti menghitung bahwa, untuk setiap 500 orang yang memakai PPI selama setahun, ada satu kematian tambahan yang tidak seharusnya terjadi. “Mengingat jutaan orang yang memakai PPI secara teratur, ini bisa berarti ribuan kematian berlebih setiap tahun,” kata Al-Aly, ketua tim peneliti itu.

Para periset juga menghitung risiko kematian pada orang yang diberi PPI atau H2 blocker walaupun tidak memiliki kondisi gastrointestinal dimana obat tersebut direkomendasikan. Di sini, para peneliti menemukan bahwa orang yang memakai PPI memiliki 24 persen peningkatan risiko kematian dibandingkan dengan orang yang menggunakan H2 blocker.

Selanjutnya, risikonya terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan obat tersebut. Setelah 30 hari, risiko kematian pada kelompok penghambat PPI dan H2 tidak berbeda secara signifikan, namun di antara orang-orang yang menggunakan obat ini selama satu sampai dua tahun, risiko pengguna PPI hampir 50 persen lebih tinggi daripada pengguna penghambat H2.

Banyak orang mengonsumsi PPI dengan alasan medis. Kemudian dokter meneruskan pemberian resep, dan mengijinkan pasien mengkopi resep berkali-kali bahkan bertahun-tahun,” kata Al-Aly. Menurutnya, dokter perlu menilai ulangsecara periodik penggunaan obat itu, dan menghentikan bila konsumsinya sudah mencapai 1-3 tahun. “Perlu ada penilaian ulang secara periodik mengenai apakah orang perlu melakukan hal ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *