Senjata Baru Perangi Tuberkulosis

Ilmuwan telah menemukan bahwa jenis tuberkulosis (TB) dengan mutasi yang seharusnya mematikan, pada kenyataannya, dapat bertahan. Akibatnya, mutasi tersebut membuat bakteri jadi resisten terhadap antibiotik.

Bekasi, Warta Bugar – Selama bertahun-tahun dokter dibuat pusing, kenapa sungguh sulit membunuh bakteri penyebab TB. Dan mengapa perlu berbulan-bulan pasien harus menjalani pengobatan.

Kini para ilmuwan dari Universitas Uppsala, Swedia, telah menemukan jawaban bahwa TB dapat bertahan dari mutasi yang secara teoritis harus membunuhnya.

Seperti dilansir situs Medical News Today (7/2), periset telah menemukan bahwa mutasi ini telah membuat jenis TB resisten terhadap antibiotik rifampisin. Padahal menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rifampisin adalah obat lini pertama yang paling efektif untuk mengobati infeksi TB.

Para peneliti telah menggambarkan penemuan mereka dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, Amerika Serikat.

Para ilmuwan kini tengah mencari antibiotik mana yang akan mengobati jenis TB di balik setiap infeksi menggunakan pengurutan DNA.

Ini melibatkan pengambilan sampel bakteri TBC dari orang dengan infeksi aktif, menganalisis profil DNA bakteri, dan mengidentifikasi jenis bakteri yang ada dan antibiotik yang kemungkinan mereka kembangkan resisten terhadapnya.

Antibiotik rifampisin menargetkan protein TB esensial RpoB. RpoB merupakan protein yang membuat kuman TB bisa bertahan hidup.

Setelah ditelusuri, tim menemukan banyak bakteri TB memiliki mutasi gen yang menghasilkan protein RpoB. Namun ada bakteri yang terlepas dari mutasi justru bisa berkembang, meskipun sudah diberikan antibiotik.

Untuk mengeksplorasi mekanisme di balik kelangsungan hidup bakteri, para ilmuwan mengisolasi gen mutan serupa pada bakteri Escherichia coli, jenis yang lebih mudah untuk bereksperimen dan lebih kecil kemungkinannya untuk menyebabkan kerusakan daripada TB.

Dengan mempelajari mutasi pada protein RpoB, para ilmuwan dapat memahami bagaimana bakteri dapat terus berkembang.

Menurut para peneliti, mutasi tersebut menyebabkan tipe DNA “licin” yang langka pada gen penghasil RpoB.

Akibatnya, ketika ribosom – sejenis mesin biologis di semua sel yang menghasilkan protein – membaca bagian urutan DNA yang dilewatinya, membuat banyak kesalahan.

Ini pada akhirnya menekan efek mutasi pada gen penghasil RpoB, memungkinkan strain yang terpengaruh untuk bertahan hidup.

Temuan ini tidak hanya menjelaskan bagaimana TB mampu bertahan dari mutasi yang diduga fatal – mereka menunjukkan potensi jebakan dalam pendekatan saat ini untuk sekuensing DNA untuk TB dan patogen infeksius lainnya. (akl)