Industri Makanan-Minuman Jadi Prioritas Pertumbuhan Industri 4.0

Industri kulinerditetapkan sebagai satu dari lima prioritas pemerintah dalam mengembangkan Revolusi Industri 4.0. Kinerja positif yang terus ditunjukkan oleh industri makanan dan minuman nasional belakangan ini membuka peluang untuk semakin berdaya saing dalam berkompetisi di pasar global.

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), mengungkapkan bahwa pihaknya memproyeksikan industri (makanan dan minuman|kuliner} dapat tumbuh lebih dari 10% pada tahun 2018, tentunya lebih tinggi dari tahun 2017.

Potensi industri makanan dan minuman di Indonesia dapat unggul karena suplai dan konsumen bervariasi, di sinilah inovasi dan keamanan produk menjadi kunci kesuksesan utama. Meningkatnya  minat akan cita rasa lokal di makanan dan minuman Indonesia, pihaknya juga menciptakan peluang bagi industri kuliner untuk menghasilkan produk sebanyak mungkin berdasarkan permintaan yang kian tumbuh, baik dari lokal maupun internasional, hingga memberikan peluang bagi bahan baku lokal untuk menjajaki pasar yang lebih luas.

Pemain lokal juga harus memperkuat produksi bahan baku dengan terus berinovasi dan mengembangkan kekayaan alam Indonesia yang memilliki potensi besar dalam industri bahan baku makanan yang tentunya telah didukung dengan penelitian yang memadai,” kata Adhi dalam jumpa pers yang digelar di JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan (4/7/2018).

Sementara itu, Puspo Edi GiriwonoExecutive Secretary, South East Asian Food and Agricultural Science and Technology – SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor, mengatakan bahwa Indonesia adalah penghasil produk agrikultur terbesar di dunia, dengan varian produk dan komoditas penting seperti kelapa sawit, beras, rempah-rempah, cengkeh, kayu manis, vanila, dan lainnya.

Potensi itu memperkaya cita rasa Indonesia dalam berbagai bentuk kuliner baik lokal maupun internasional. Sebagai contoh, saat ini sejumlah produk makanan cepaat saji memperkenalkan varian khas Indonesia seperti soto, rendang, hingga sambal matah. Produk minuman instan pun tidak kalah variatif dengan hadirnya rasa blewah, kunyit asem, dan wedang jahe.

Fakta meluasnya permintaan akan cita rasa khas Indonesia ini harus dapat dimanfaatkan oleh industri lokal untuk memperkenalkan keunggulan bahan baku kuliner yang dimiliki Indonesia sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas tidak hanya di kawasan Asia namunjuga pasar global,” katanya.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *