Rupiah Menguat menjelang pertemuan AS-Cina

Rupiah terus menunjukkan keperkasaannya. Memasuki pekan negosiasi dagang AS-Cina, semua pasar negara berkembang meningkat selaranya. Dalam pertemuan nanti, diperkirakan  Amerika Serikat setuju untuk memperpanjang tenggat 1 Maret untuk tarif Tiongkok, sehingga ketegangan dagang tampaknya akan melonggar di jangka pendek. Aset pasar berkembang diuntungkan oleh selera yang membaik ini, termasuk Rupiah.

Menurut analis riset FXTM, Lukman Otunuga, perhatian investor akan tertuju pada rilis data pertumbuhan kredit Indonesia yang dapat memberi gambaran tentang perubahan total kredit dan sewa sepanjang bulan Januari.

“Walaupun data pertumbuhan kredit memengaruhi Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan, namun faktor eksternal seperti perkembangan dagang dan masalah pertumbuhan global tetap memegang peran penting dalam valuasi Rupiah pekan ini,” ujarnya.

Hal yang terdengar tidak mungkin beberapa bulan lalu, sekarang tampak mungkin terjadi. Hari Minggu lalu, Presiden Trump mengumumkan akan menunda kenaikan tarif AS terhadap Tiongkok yang dijadwalkan untuk diberlakukan mulai 1 Maret.

Ia mengatakan bahwa ada kemajuan signifikan dalam negosiasi dagang dengan Tiongkok dalam berbagai isu penting seperti perlindungan hak kekayaan intelektual, transfer teknologi, agrikultur, jasa, dan mata uang. “Apabila negosiasi terus bergerak ke arah yang menggembirakan, Presiden Trump berencana untuk bertemu pihak Tiongkok di resornya, Mar-a-Lago, untuk mencapai kesepakatan, imbuh Otunuga dalam keterangan persnya (25/2/2019).

Ketegangan dagang ini merugikan bagi kedua pihak dan juga dunia, terutama karena terjadi di saat siklus ekonomi mendekati puncaknya. Tiongkok ingin menghindari perlambatan ekonomi, sedangkan Presiden Trump ingin memenuhi salah satu janji kampanye untuk mengatasi defisit perdagangan.

Menurut Otunuga, untuk mendukung upayanya agar terpilih kembali, Trump harus menghindari memperlambat ekonomi AS sehingga perlu mengumumkan kesepakatan walaupun mungkin tidak sempurna.

Faktor global lain yang mempengaruhi menguatnya Rupiah adalah keputusan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menunda voting parlementer mengenai kesepakatan Brexit tidak terlalu memengaruhi Pound di hari Senin. Voting dijadwalkan untuk diadakan di hari Rabu, namun May menundanya ke 12 Maret.

Peluang penundaan Brexit, kata Otunuga, semakin besar dari hari ke hari. Laporan Telegraph belum lama ini, mengatakan bahwa May mempertimbangkan untuk menunda proses hingga dua bulan. Selama Inggris tidak hengkang dari Uni Eropa tanpa mencapai kesepakatan, Pound sepertinya akan terus bertahan di sekitar 1.30-an di jangka pendek.

Politik tetap menjadi penggerak utama di pasar finansial, tapi jadwal pekan ini juga penuh dengan data ekonomi penting. Setelah data AS tidak berhasil mencapai ekspektasi penjualan ritel, barang tahan lama, penjualan rumah tersedia, dan beberapa data lain, data PDB kuartal keempat akan dirilis pada hari Kamis.

Pasar memperkirakan pertumbuhan YoY (year on year) melambat menjadi 2.4% dibandingkan 3.4% pada kuartal sebelumnya. Walau demikian, mengingat sejumlah kejutan negatif di beberapa pekan terakhir, data PDB ini pun mungkin saja meleset.  Tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve, PCE, juga akan dirilis di hari Jumat bersama dengan data Pendapatan Perseorangan.