Prediksi perbankan Indonesia versi Morgan Stanley

Morgan Stanley (MS) membagikan pandangannya terhadap perbankan di Indonesia dengan merilis laporan yang berjudul “Growth and Liquidity Cycles in Sync”.

Laporan yang disusun oleh Mulya Chandra dan Yulinda Hartanto dalam bentuk keterangan persnya (15/4/2019), menjelaskan bagaimana MS lebih optimis terhadap perbankan Indonesia dan pertumbuhan serta siklus likuiditas dianggap selaras.

Menurut MS, sistem perbankan Indonesia sedang berada pada awal siklus likuiditas, atau di atas siklus pertumbuhan yang diharapkan, sehingga mendorong peningkatan MS pada bulan Oktober 2018.

Didukung oleh perkiraan penurunan suku bunga sebesar 75 bps pada 3Q19, MS meningkatkan BRI (Bank Rakyat Indonesia) dan BNI (Bank Negara Indonesia) menjadi overweight dan menjadi saham pilihan MS.

Kemudian, ekonom MS Cabang Asia, Deyi Tan, memperkirakan bahwa BI akan menurunkan suku bunga sebesar 75 bps pada 3Q19, di tengah suku bunga the Fed yang lebih dovish, inflasi rendah dan CAD yang menyempit.

MS percaya pelonggaran likuiditas adalah yang dibutuhkan oleh sistem perbankan, di tengah kembali munculnya permintaan akan pinjaman bisnis dan sistem likuiditas lebih ketat setelah kenaikan suku bunga 175 bps pada tahun 2018.

Siklus penurunan suku bunga sebelumnya, dikombinasikan dengan  pelonggaran kebijakan makroprudensial, efektif dalam menurunkan LDR (loan deposit ratio) sistem sebesar 3-6 ppt.

NIM bank-bank Indonesia seharusnya akan mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga, mengingat durasi likuiditas yang lebih pendek daripada aset.

BRI, BTN, dan BNI seharusnya mendapatkan keuntungan yang lebih besar menurut pandangan MS, mengingat mereka memiliki lebih banyak pinjaman dengan peringkat tetap dan / atau rasio CASA yang lebih rendah daripada BCA atau Mandiri.

Lebih lanjut lagi, MS menaikkan perkiraan NIM 2019-20 hingga 10 bpsm menjadikan NIM relatif datar hingga naik 20 bps dari 2018.

MS memotong asumsi biaya kredit 2019-sebesar 20 hingga 25 bps, karena penurunan suku bunga dapat meningkatkan kualitas aset dan mengurangi risiko pinjaman.

Pemangkasan suku bunga tersebut, kata MS, dapat menghidupkan kembali permintaan pinjaman konsumen, di mana pertumbuhan pinjaman YoY telah merosot 1,8 ppt sejak September 2018. Pemotongan ini menambah percepatan pinjaman bisnis yang diperkirakan akan didorong oleh siklus investasi.

Defisit transaksi berjalan yang lebar dan suku bunga simpanan yang rendah telah membebani pertumbuhan deposito, dan menaikkan LDR di masa lalu.

Namun, MS mengharapkan perbaikan CAD dan inflasi dalam jangka menengah, serta dampak yang menguntungkan pada pendanaan bank:

1) Mengurangi arus dana keluar dari perdagangan

2) Suku bunga deposito lebih tinggi untuk meningkatkan daya saing

3) Diversifikasi untuk pendanaan jangka panjang, memperbaiki ketidaksesuaian jatuh tempo saat ini

MS meningkatkan pandangannya terhadap BRI dan BNI menjadi overweight, karena MS memperkirakan NIM kedua bank tersebut akan mendapatkan manfaat terbesar dari penurunan suku bunga, dan mengharapkan risk appetite investor yang lebih besar untuk saham dengan beta tinggi.

Meskipun MS mempertahankan rekomendasi overweight pada Mandiri, MS mengurangi target harga sebesar 4%, mengingat adanya potensi akuisisi bank skala menengah yang dapat dianggap oleh investor sebagai gangguan dan berpotensi dilutif untuk pengembalian.

Setelah peningkatan tersebut, penghasilan gabungan tahun 2019-20 oleh MS adalah 5-9% lebih tinggi daripada konsensus.(asw