Perang Dagang Pengaruhi Belanja Modal Perusahaan

Morgan Stanley (MS) merilis laporan terbarunya mengenai Global Macro Mid-Year Outlook berjudul “Policy Dominates the Cycle”. Laporan itu ditulis oleh Chetan Ahya, Derrick Y Kam, Nora Wassermann, dan Frank Zhao.

Menurut laporan tersebut, ekskalasi perdagangan bersifat sementara dan dukungan kebijakan akan menjaga ekonomi global pada jalur pemulihan secara bertahap. Namun begitu, risiko tinggi yang disebabkan karena ketegangan perang dagang dapat memengaruhi kepercayaan dan belanja modal perusahaan.

MS berpendapat bahwa dengan dukungan kebijakan, ekonomi global perlahan-lahan keluar dari mini-cycle yang ada. Meski tarif impor saat ini telah diberlakukan, MS percaya bahwa ketegangan AS-Cina ini akan bersifat sementara, dengan kedua belah pihak terus bekerja menuju kesepakatan akhir.

Saat ini, MS melihat pelonggaran kebijakan dari Cina dan poros Fed cukup untuk menjaga ekonomi global pada jalur pemulihan bertahap. Stimulus fiskal yang signifikan sebesar 1,75% dari PDB (US$ 250 miliar) berjalan dengan baik melalui ekonomi Tiongkok, dan para pembuat kebijakan cenderung mempertahankan sikap pro-pertumbuhan mereka karena pasar tenaga kerja tetap lemah.

Namun apabila ketegangan perdagangan berlanjut, kepercayaan perusahaan akan mengalami pukulan besar kedua dalam waktu singkat. Latar belakang ini akan menghambat dampak dari pelonggaran kebijakan dan kemudahan kondisi keuangan.

Seberapa lama perang dagang akan terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap perusahaan? Menurut MS, jika ketegangan perdagangan berlanjut selama 3-4 bulan, kemungkinan respons kebijakan akan lebih kuat. 

MS mengharapkan Cina untuk menerapkan pelonggaran fiskal lebih lanjut sebesar 0,5 pp PDB (untuk kumulatif 2,25%) dan mencari tambahan pertumbuhan kredit yang lebih luas sebesar 100bp. 

Meskipun demikian, mengingat latar belakang pertumbuhan yang memburuk dan titik awal yang rendah untuk inflasi, MS memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50bp pada tahap awal.

Dalam skenario di mana AS dan Cina gagal membuat suatu kesepakatan dan saling mengenakan tarif pada barang-barang impor, MS percaya bahwa resesi global (yaitu, pertumbuhan global di bawah 2,5% Y) akan segera terjadi. (hkw)