Makro

Menghadapi Tahun Politik dan Ekonomi Global, Perlu Pemimpin Perusahaan Yang Handal

Berlangsungnya ajang politik terbesar tahun ini, pemilihan umum serentak: Pemilihan Presiden dan Pemilihan Anggota Legislatif. Tentu saja ini berdampak besar pada berbagai bidang kemasyarakatan. Mulai ranah politik itu sendiri, hukum, sosial, tak terkecuali ekonomi/bisnis.

Ditambah lagi, pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi lebih rendah ketimbang 2018, semakin berimbas pada dunia usaha di Indonesia. Keduanya berpotensi menimbulkan ketidakstabilan, atau kondisi VUCA: penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), rumit (complexity), dan serba kabur (ambiguity).

Dalam keterangan pers yang diterima dari Dale Carnegie & Associates (31/1/2019), untuk mengantisipasi tantangan VUCA, budaya perusahaan yang kuat yakni, kultur yang mengedepankan keterlibatan karyawan, menjadi krusial. Untuk membangun itu, perusahaan harus terlebih dahulu mengatasi tiga ancaman utama secara internal, yaitu: 1) tekanan produktivitas, 2) tranparansi, dan 3) retensi karyawan.

Survei terbaru Dale Carnegie & Associates di lima negara (Jerman, Polandia, India, Amerika Serikat dan Indonesia) mengungkap bahwa 45% pemimpin perusahaan merasa tekanan untuk meningkatkan produktivitas menjadi tantangan utama membangun budaya perusahaan yang demikian.

Sementara itu, 39% pemimpin menganggap transparansi di tempat kerja dan meningkatnya mobilitas (keluar-masuk) karyawan menjadi penyebab lain sulitnya tercipta budaya kuat sebuah perusahaan.

Dale Carnegie sebagai thought leader menggagas survei ini untuk memahami persepsi para pemimpin tentang kekuatan budaya perusahaan dan tindakan yang tepat untuk memperbaikinya.


Paul J. Siregar, MSc.C.Eng. selaku CEO Dale Carnegie Indonesia, mengatakan bahwa dalam guncangan VUCA, budaya perusahaan sangatlah penting utamanya menggalang kekuatan internal, satu-satunya yang bisa diandalkan menghadapi lingkungan bisnis yang berubah.

“Sebab, lewat budaya di lingkungan kerjalah karyawan bisa melihat bagaimana mereka berandil dalam organisasi, berhubungan dengan atasan, memecahkan masalah, serta memahami tujuan perusahaan,” tutur Paul J. Siregar.

Budaya perusahaan yang kuat, atau culture champion, bisa tercapai jika para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya keterlibatan karyawan. “Di sinilah pemimpin yang mampu mengembangkan emosi positif berpengaruh besar. Bagaimana membangun budaya yang melibatkan merupakan tema sentral dari seminar yang akan kami adakan ini,” imbuhnya.

Comment here