Bukalapak Luncurkan BukaGlobal

Melalui BukaTalks, Bukalapak menghadirkan sosok-sosok yang inspiratif untuk berbagi cerita kepada anak muda dalam sebuah format diskusi yang diadakan rutin setiap bulan.

BukaTalks bertajuk SomeThink to Talk About” dilaksanakan di The Ice Palace Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan, mengundang enam tokoh muda yang telah sukses membuktikan kiprahnya di bidangnya masing-masing

Mereka membuktikan bahwa keberanian menyuarakan aspirasi dan menentukan pilihan akan mendorong pada perubahan yang lebih baik untuk masyarakat.  

Keenam tokoh muda yang hadir dalam BukaTalks yaitu Raditya Dika sebagai Content Creator, Marchella F.P. sebagai Founder sekaligus Penulis Generasi 90an dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI).

Kemudian Ben Soebiakto selaku Co-Founder Benson Capital Indonesia/Ideafest, Stephany Josephine yang merupakan Penulis Blog thefreakyteppy.com, Emilia Nazir yang berprofesi sebagai Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Arief Aziz yang mendirikan change.org Indonesia.

Bayu Syerli, Vice President of Marketing Bukalapak mengatakan bahwa Bukalapak bangga hadir untuk Indonesia tidak hanya mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

“Namun kami juga memiliki kepedulian terhadap kreativitas generasi muda agar mereka dapat berkarya demi kemajuan bangsa, kata Bayu dalam keterangan persnya (14/4/2019).

Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan menghadirkan BukaTalks.

Bukatalks adalah sebuah kegiatan yang dapat dinikmati oleh semua generasi muda dimana saja, yang tentunya di setiap episodenya hadir dengan narasumber yang telah membuktikan kiprahnya di masyarakat.

Marchella F.P. sebagai Founder sekaligus Penulis Generasi 90an dan NKCTHI, hadir membagikan cerita tentang bagaimana suara dituangkan dalam sebuah karya sehingga dapat diterima masyarakat.

Marchella berpesan bahwa kita harus memilikirelevansi dan memiliki kedekatan dengan pengalaman masyakarat agar suara kita dapat diterima dan menggerakkan masyarakat menerima sebuah gagasan. 

Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Stephany Josephine atau yang sering dipanggil Teppy, penulis blog thefreakyteppy.com, mengatakan bahwa tidak selalu perlu menulis sesuatu yang luar biasa dengan penggunaan diksi yang rumit agar tulisan kita dibaca oleh orang lain.

“Saya menulis apa yang ada di benak dengan prinsip tulisan saya harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, ringan dan relevan dengan tren dan isu yang sedang ramai dibahas di internet,” ujarnya.

“Tulisan saya disampaikan melalui komedi, dan dalam bahasa slang sehari-hari seolah saya teman dari pembaca yang sedang bercerita langsung di depan mereka,” imbuhnya.

Selanjutnya, Raditya Dika bercerita mengenai bagaimana ia menghasilkan suatu karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

Menurutnya, generasi muda Indonesia saat ini telah banyak yang menjadi kreator-kreator yang hebat. Namun untuk menjadi unik dan berbeda, adalah suatu keharusan agar karya-karya kita dapat bertahan lama di masyarakat.

“Saya memanfaatkan humor untuk dapat menyampaikan apa yang ada di kepala saya menjadi sebuah konten kepada orang-orang di sekitar,” kata Raditya.

“Dengan trik dan formula yang tepat, humor ini kemudian saya jadikan sebuah naskah baik untuk standup comedy  maupun film yang dapat menginspirasi anak muda.”

Ideafest hadir untuk menghubungkan dan menginspirasi komunitas kreatif di Indonesia.

Menurut Ben Soebiakto selaku Founder Ideafest, bilang bahwa setiap insan kreatif seharusnya bisa menyuarakan gagasannya.

Ini karena sebuah ide kreatif tidaklah berarti jika tidak memberikan dampak yang positif bagi masyarakat.

“Insan kreatif diharapkan dapat bersinergi bersama-sama sehingga membentuk ekosistem yang berperan dalam percepatan pembangunan bangsa,” kata Ben.

Emilia Nazir yang berprofesi sebagai Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang juga hadir sebagai salah satu pembicara memberikan pandangannya bahwa anak-anak harus dilatih dan di stimulasi sejak dini terutama saat usia golden age.

Karena itulah masa-masa dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk.

Mereka harus dilatih untuk berani berpendapat, memilih sesuatu hal yang sederhana seperti menentukan pakaian yang ingin digunakan ke sekolah, menyiapkan bekal sendiri, dan lain-lain.

Sehingga dapat mendorong pembentukan karakter yang positif bagi anak demi masa depan mereka yang lebih baik. 

Perubahan sosial saat ini bisa dihasilkan dengan berbagai cara, salah satunya melalui media sosial.

Media sosial saat ini digunakan untuk tempat berkumpul virtual dan secara tidak langsung dapat memobilisasi massa dengan tujuan dan kepentingan yang sama.

Change.org Indonesia merupakan wadah perubahan sosial ini dapat diwujudkan, dengan petisi-petisi yang ditandatangani bersama secara virtual.  

“Apakah petisi membuat perubahan? Tidak. Yang membuat perubahan adalah orang,” katanya.

Petisi, seperti kanal-kanal lainnya, bisa menjadi wadah bagi orang-orang untuk berkumpul dan menyuarakan aspirasinya, dengan tuntutan konkret, dan alamat yang tepat.

“Ia bisa juga menjadi tempat untuk menunjukkan solidaritas kita kepada orang-orang yang setiap hari memperjuangkan hak-hak masyarakat. Baik itu soal lingkungan hidup, anti-korupsi, demokrasi, maupun yang lain”, ujar Arief Aziz pendiri Change.org Indonesia.

Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2017, BukaTalks telah menginspirasi jutaan masyarakat Indonesia dengan sederet topik menarik dan mengundang tokoh-tokoh hebat seperti Sujiwo Tejo, Ridwan Kamil, Najwa Shihab dan Wishnutama.

Sebanyak 255 video cuplikan BukaTalks telah diunggah di kanal resmi Youtube Bukalapak dan ditonton lebih dari enam juta masyarakat Indonesia. (sgh)