Bahan Kimia Insektisida Bisa Menyebabkan Diabetes

Bahan Kimia Insektisida Bisa Menyebabkan Diabetes
Bahan Kimia Insektisida Bisa Menyebabkan Diabetes

Insektisida akrab dengan kehidupan kita. Untuk mengusir nyamuk atau serangga di kebun, banyak orang memakai insektisida. Namun tahukan kalau insektisida sangat beracun dan berbahaya bagi manusia. Bahkan dalam studi terakhir, menyebutkan bahwa insektisida bisa menyebabkan diabetes.

Menurut Margarita L. Dubocovich, PhD, peneliti dari Unievrsitas Buffallo (UB), Amerika Serikat, bahan kimia dalam insektisida dapat memengaruhi sinyal reseptor menciptakan risiko yang lebih tinggi untuk penyakit metabolik seperti diabetes.

Hasil studinya sebenarny sudah diterbitkan pada 27 Desember tahun lalu dalam Jurnal Chemical Research in Toxicology, namun baru disiarkan situs sciencedaily.com, (19/1/2017). “Ini adalah laporan pertama yang menunjukkan bagaimana bahan kimia yang ditemukan dalam produk rumah tangga lingkungan berinteraksi dengan reseptor melatonin manusia,” kata Dubocovich.

Dubocovich dan koleganya sudah membuktikan di laboratorium. Studi itu didanai melalui hibah dari National Institute of Environmental Health Sciences, bagian dari National Institutes of Health.

Penelitian saat ini berfokus pada dua bahan kimia, carbaryl, jenis insektisida yang ketiga terbanyak digunakan di Amerika Serikat tetapi yang ilegal di beberapa negara. Kemudian jenis yang kedua adalah karbofuran, insektisida karbamat paling beracun, yang telah dilarang untuk aplikasi pada tanaman pangan untuk konsumsi manusia sejak 2009 . Namun masih digunakan di banyak negara, termasuk Meksiko.

Peneliti juga menggunakan database UB yang berisi data 4 juta bahan kimia yang dilaporkanberacun. Dari situ, kami mengidentifikasi ratusan ribu senyawa. Setelah pengelompokan bahan kimia dalam cluster sesuai dengan kesamaan mereka, mereka menemukan beberapa dengan kelompok-kelompok fungsional mirip dengan melatonin.

“Kami menemukan bahwa kedua insektisida secara struktural mirip dengan melatonin ,” ujar Marina Popevska-Gorevski, wakil ketua tim penelitia yang kini menjadi ilmuwan perusahaan farmasi Boehringer Ingelheim.

Keduanya menunjukkan afinitas untuk melatonin, reseptor MT2, yang berpotensi dapat mempengaruhi homeostasis glukosa dan sekresi insulin. “Itu berarti bahwa paparan mereka bisa menempatkan orang pada risiko yang lebih tinggi untuk diabetes dan juga mempengaruhi pola tidur,”kata Gorevski.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*