Awas, Suka Main Banyak Medsos Bisa Depresi Lho

Banyak orang menganggap bahwa bermain atau bercuat-cuit di media sosial (medsos) mempunyai nilai positif. Yaitu: bisa mengatasi stres. Padahal itu tidak benar.

Menurut peneliti pada Pusat Penelitian Media, Teknologi dan Kesehatan (CRMTH), Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, aktif di medsos justru mengakibatkan orang tadi bisa berisiko depresi.

Kesimpulan tersebut dibuat Brian A. Primack, MD, Ph.D melakukan studi terhadap 1.787 orang dewasa berusia 19-32 tahun pada tahun 2014. Seperti dikutip sciencedaily.com (20/12/2016), peneliti mengajukan kuesioner mengenai aktivitas mereka di sejumlah 11 jejaring sosial — Facebook, YouTube, Twitter, Google+, Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine dan LinkedIn.

Para peneliti mengontrol faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan depresi dan kecemasan, termasuk ras, jenis kelamin, status hubungan, pendapatan rumah tangga, pendidikan dan jumlah waktu yang dihabiskan di medsos.

Selain itu periset juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar depresi yang dialami mereka. Primack dan timnya mengusulkan beberapa hipotesis mengapa penggunaan medsos dapat mendorong depresi dan kecemasan.

Beberapa hipotesis tadi antara lain: multitasking, dimana seorang berganti-ganti medsos menunjukkan kesehatan mental dan kognitif yang buruk. Hipotesis lain: orang yang lebih sering menggunakan waktu di beberapa medsos justru dapat menyebabkan rasa malu yang berulang.

Walhasil, Primack menyimpulkan bahwa peserta yang menggunakan tujuh sampai 11 platform medsos memiliki 3,1 kali kemungkinan pelaporan lebih tinggi mengenai keluhan depresi daripada rekan-rekan mereka yang tidak menggunakan medsos atau dua medsos.

Mereka yang menggunakan platform medsos paling banyak memiliki 3,3 kali kemungkinan mempunyai gejala cemas, dibandingkan mereka yang menggunakan paling sedikit medsos. Analisis tersebut menurut rencana akan diterbitkan dalam bentuk cetak pada Jurnal Computers edisi April mendatang.

Menurut Primack, hubungan ini cukup kuat. Dalam konseling, dokter dapat menanyakan kepada pasien depresi dan cemas mengenai jumlah medsos yang dimanfaatkan. “Penggunaan ini mungkin berhubungan dengan gejala mereka,” kata Primack.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *