Suplementasi Vitamin C Dapat Mengurangi Gangguan Paru Bayi Dari Ibu Perokok

Merokok memang sebaiknya tidak dilakukan pada ibu hamil. Sebab, salah satunya, bisa merusak paru-paru janin yang berdampak pada bayi setelah dilahirkan. Namun risiko itu, bisa diminimalisir dengan mengonsumsi suplemen vitamin C.

Menurut studi yang digarap Dr Cindy McEvoy dari Oregon Health & Universitas Sains di Portland, Oregon, Amerika Serikat, pemberian suplemen vitamin C harian dikaitkan dengan fungsi paru-paru yang lebih baik pada bayi pada 3 bulan dibandingkan dengan plasebo pada wanita yang merokok selama kehamilan.

Studi itu menunjukkan intervensi murah yang berpotensi dapat membantu mengurangi efek merokok ibu pada perkembangan paru-paru bayi.

McEvoy mengatakan bahwa merokok selama kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan paru-paru dengan penurunan fungsi paru hampir seumur hidup. Untuk itu diperlukan cara membantu bayi yang terpapar nikotin agar tetap tumbuh lebih sehat.

“[Suplemen vitamin C] pada wanita hamil yang tidak bisa berhenti merokok … dapat menghadirkan intervensi yang aman dan murah yang berpotensi membantu kesehatan paru-paru jutaan bayi di seluruh dunia,” ujarnya seperti dikutip dalam specialty.mims.com (20/12/2018).

Dalam studi multicentre, uji coba double-blind, 251 perokok hamil diacak oleh McEvoy dan timnya. Sebagian dari mereka diminta mengonsumsi vitamin C 500 mg / hari atau plasebo pada usia kehamilan 13-23 minggu, di samping vitamin prenatal standar mereka.

Bayi yang dilahirkan oleh wanita-wanita ini dinilai pada 3 bulan di FEF, yang menurut para peneliti, adalah ukuran yang lebih spesifik dari fungsi jalan napas pada bayi. FEF mengukur kecepatan udara yang dihembuskan dari paru selama ekspirasi paksa dan mampu mendeteksi obstruksi jalan napas.

Berdasarkan hasil studinya bersama rekan-rekannya, pada 3 bulan, bayi yang ibunya memiliki vitamin C tambahan selama kehamilan memiliki fungsi paru yang secara signifikan lebih baik, yang diukur dengan aliran ekspirasi paksa (FEF) dalam 50 detik dibandingkan dengan bayi yang ibunya menerima plasebo selama kehamilan.

“Kami memilih FEF75 sebagai hasil utama kami untuk menilai fungsi jalan napas bayi dalam kelompok acak, namun kami bisa dengan mudah memilih FEF50 dan FEF25-75 sebagai hasil utama karena mereka diperoleh dari kurva ekspirasi yang sama,” kata McEvoy.

“Penurunan FEF pada masa bayi berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan,” imbuhnya.

Meski begitu, periset tetap menekankan bagi ibu hamil untuk berhenti merokok. Sebab, risikonya tetap tinggi. Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa merokok ibu selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan hasil pernafasan yang merugikan, termasuk peningkatan risiko COPD di masa dewasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *