Anak Autis Bisa Dideteksi Lebih Awal

Banyak orang tua sering mengetahui bahwa anaknya terkena autis setelah si kecil berusia dua tahun. Ketika itu orang tua melihat keanehan dalam perilakunya, seperti bermain. Padahal, berdasarkan riset teranyar, seorang anak yangf bakal menderita autis sudah bisa diketahui seja umur setahun.

Dalam bbc.com (15/2/2017), peneliti pada Universitas North Carolina, Amerika Serikat, mengamati 148 anak termasuk mereka yang berisiko tinggi autisme karena mereka memiliki saudara yang lebih tua dengan gangguan tersebut. Mereka menjalani pemindaian otak pada usia 6 bulan, setahun, dan 2 tahun.

Periset menemukan perbedaan awal di bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi tingkat tinggi seperti bahasa – korteks serebral – pada anak-anak yang pergi untuk dapat didiagnosis dengan autisme.

Penelitian ini membuka kemungkinan untuk perubahan besar dalam cara mendiagnosa autisme. Selain itu, dengan memeriksa otak anak-anak, terutama dari keluarga berisiko tinggi, bisa mempercepat diagnosa.

Jika dapat didiagnosis lebih awal, maka terapi perilaku bisa dlakukan lebih dini. Dokter bisa melatih orang tua  bagaimana cara-cara berinteraksi dengan anak autis. Sehingga begitu anak tadi menunjukkan gejalanya, orang tua bisa langsung dapat berinteraksi.

Dalam jangka panjang, hal itu mungkin bisa dilakukan untuk semua bayi, sampai kemajuan tes DNA kemajuan bisa menjadi alat yang berguna untuk mengidentifikasi anak-anak berisiko tinggi.

Memberikan anak-anak scan otak, terutama di keluarga berisiko tinggi, bisa menyebabkan anak-anak yang didiagnosis sebelumnya. Penelitian ini membuka kemungkinan untuk perubahan besar dalam cara autisme diperlakukan dan didiagnosis.

Memberikan anak-anak scan otak, terutama di keluarga berisiko tinggi, bisa menyebabkan anak-anak yang didiagnosis sebelumnya.

Dalam jangka panjang, hal itu mungkin untuk melakukan sesuatu yang mirip untuk semua bayi jika tes DNA kemajuan cukup untuk menjadi alat yang berguna untuk mengidentifikasi anak-anak berisiko tinggi.

Jika dapat didiagnosis lebih awal, maka terapi perilaku seperti yang melatih orang tua dalam cara-cara baru berinteraksi dengan anak autis dapat diperkenalkan sebelumnya ketika mereka harus lebih efektif.

Dalam jangka panjang, hal itu mungkin untuk melakukan sesuatu yang mirip untuk semua bayi jika tes DNA kemajuan cukup untuk menjadi alat yang berguna untuk mengidentifikasi anak-anak berisiko tinggi.

Penelitian ini membuka kemungkinan untuk perubahan besar dalam cara autisme diperlakukan dan didiagnosis.

Dr Heather Hazlett, salah peneliti di University of North Carolina, mengatakan: ” Pada awal tahun pertama kehidupan, kita lihat perbedaa permukaan daerah otak, yang mendahului gejala  autisme.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *