Read Time:1 Minute, 42 Second

WARTABUGAR – Pendidikan vokasi sebelumnya ditujukan agar anak-anak yang baru lulus sekolah lanjutan dan mendalami pendidikan vokasi bisa langsung bekerja baik secara mandiri atau sebagai pekerja di salah satu perusahaan. Tidak heran, banyak pendidikan vokasi dibuka lebar-lebar oleh pemerintah. Lembaga swasta pun ikut-ikutan.

Namun, paling tidak menurut survei, banyak pengangguran justru berasal dari anak-anak yang lulus dari pendidikan vokasi. Dr. Dwini Handayani, S.E., M.Si. memaparkan kondisi pendidikan dan pekerjaan di Indonesia, antara lain adalah kesesuaian potensi permintaan dan ketersediaan lulusan, sumber daya manusia, kurikulum, prasarana, dan kualitas lulusan.

“Berdasarkan olahan data Sakernas 2022, jumlah pengangguran terbuka lulusan vokasi di tahun 2022 adalah sebesar 1,8 juta atau 22% dari total pengangguran yang mana merupakan angka yang terbilang besar. Lebih lanjut, jumlah dan tingkat pengangguran terbuka lulusan vokasi yang paling tinggi merupakan lulusan SMK,” kata Dwini.

Selanjutnya, Ratna Indrayanti, S.E., M.S.E., menjelaskan bahwa jumlah pengangguran lulusan SMK tertinggi adalah ada bidang keahlian teknologi dan rekayasa serta bisnis manajemen, sedangkan yang terendah adalah pada bidang  keahlian energi dan pertambangan serta seni dan industri kreatif. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa memiliki pengalaman lebih dari satu jenis pelatihan dapat memudahkan untuk masuk ke dalam pasar kerja. “Sayangnya, angkatan kerja yang mengikuti pelatihan dalam setahun terakhir masih sangat minim,” ujarnya dalam rilisnya (31/3/.

Kedua pakar ini berbicara menanggapi hasil survei yang ditampilkan dalam  Monthly Discussion ketiga di tahun 2023 ini diadakan pada hari Jumat, 31 Maret 2023 dengan tema diskusi “Penyiapan SDM Lulusan Vokasi di Masa Depan”.

Untuk itu, Dwini menyampaikan beberapa strategi kebijakan dalam pemenuhan permintaan tenaga kerja. Yang pertama adalah pelatihan tenaga kerja yang responsif dan adaptif, sesuai dengan permintaan pasar, dan kebutuhan yang heterogen (secara umur, gender, potensi wilayah, dan jabatan pekerjaan) menggunakan modul yang menitikberatkan pada praktik dan magang serta adanya evaluasi secara berkala sesuai permintaan pasar.

Kedua adalah mendorong penciptaan lapangan pekerjaan berkelanjutan dengan melakukan tracer study dan memperbaiki database lulusan, meningkatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan (lebih dari satu jenis pelatihan), mengembangkan sistem informasi pasar tenaga kerja, dan menguatkan sistem perlindungan sosial.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Anak Usaha Pertamina Ini Mencatat Kenaikan Laba Yang Luar Biasa
Next post Wing Food Luncurkan Minuman Kesehatan Baru