Read Time:2 Minute, 5 Second

WARTABUGAR – Royal Philips produsen alat kesehatan merilis rangkaian temuan kedua dari Survei Gaya Hidup Sehat di Asia. Survei yang dilaksanakan oleh Kantar Profiles Network ini diikuti oleh 4.000 orang di Singapura, Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand.

Survei ini mengungkap adanya kesenjangan antara pemantauan dan tindakan kesehatan di wilayah tersebut: dimana orang yang menggunakan teknologi kesehatan pribadi untuk melacak kesehatan mereka sekarang lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi, namun banyak yang belum aktif mengambil tindakan korektif berdasarkan data kesehatan yang terkumpul.

Teknologi kesehatan pribadi memainkan peran yang lebih besar dalam perawatan diri di Asia saat sudah banyak orang yang mengadopsinya.

Ini akan menjadi kunci untuk memberdayakan konsumen untuk menggunakan dan memahaminya dengan lebih baik untuk meningkatkan kesehatan preventif pada tahun 2023 dan seterusnya.

Survei ini menemukan bahwa pandemi telah mendorong minat terhadap kesehatan preventif dengan hampir 41% responden di Indonesia kini menggunakan perangkat kesehatan pribadi lebih banyak daripada sebelum pandemi.

Di Indonesia, kesehatan jantung (54%), kesehatan mental (46%), dan kesehatan mulut (42%) adalah beberapa kondisi yang dipantau masyarakat setidaknya setiap bulan.

Sejak pandemi, masyarakat di Indonesia lebih banyak melakukan konsultasi web chat dengan dokter serta memantau kesehatan, pola tidur, pola makan, dan nutrisi mereka lebih dari sebelumnya.

Yang paling penting adalah angka rata-rata regional menunjukkan bahwa rekomendasi dokter menjadi pemicu terbesar untuk mulai melakukan tindakan lanjutan dari hasil yang diperoleh dari data kesehatan pribadi (62%).

Demikian pula di Indonesia, 62% orang lebih cenderung menindaklanjuti data tersebut apabila direkomendasikan oleh dokter dan penyedia layanan kesehatan mereka.

Namun, hanya 37% orang Indonesia yang membagikan data ini secara teratur dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan mereka, dengan kekhawatiran seputar privasi data (41%) yang dikutip oleh responden sebagai alasan paling umum mengapa mereka belum membagikan data sesering atau seluas mungkin.

Sekitar 1 dari 5 responden juga mengaku kewalahan dengan banyaknya data, tidak tahu bagaimana menafsirkan tanggal atau membagikan data yang dikumpulkan dari perangkat kesehatan pribadi mereka dengan dokter mereka.

Sungguh menggembirakan melihat begitu banyak orang di Indonesia telah menyadari pentingnya mengelola kesehatan jangka panjang dan menjaga kondisi badannya.

“Pemantauan adalah langkah pertama yang baik, tetapi untuk melihat manfaat nyata, tindakan korektif terkait kesehatanlah yang harus lebih banyak diambil. Pendidikan menjadi kunci untuk meningkatkan literasi dan penggunaan data,” ujar Pim Preesman, Country Leader Philips Indonesia.

‘Selain itu, penting untuk memiliki sistem perawatan kesehatan yang memiliki kerangka kerja dan infrastruktur guna menghubungkan tenaga profesional ke data kesehatan pribadi dengan cara yang aman dan terlindungi untuk memastikan rekomendasi kesehatan mendapat manfaat dari data-data tersebut”, kata Pim Preesman, dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Zat Besi memiliki efek samping infeksi kulit Previous post Otot Terasa Kaku dan Tegang, Obat Ini Mungkin Solusinya
Next post Esperson, Obat Gangguan Pada Kulit