Read Time:1 Minute, 42 Second

WARTABUGAR – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini telah menemukan produk olahan minuman dalam kemasan yang mengandung bahan kimia obat parasetamol dan sildenafil. Temuan tersebut berasal dari kota Bandung dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepala BPOM, Penny Lukito menjelaskan, bahan kimia obat tidak boleh digunakan sebagai bahan obat tradisional dan pangan olahan.

Pasalnya bahan kimia obat merupakan bahan baku khusus untuk produksi obat, sehingga apabila digunakan untuk produksi olahan makanan atau minuman dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.

“Bahan kimia obat seperti parasetamol dan sildenafil merupakan bahan yang digunakan untuk produksi obat, jika tidak digunakan sesuai aturan pakai (dosis), bahan kimia obat itu dapat menimbulkan risiko tinggi dan efek samping yang dapat membahayakan kesehatan,” papar Penny dalam keterangan tertulis, (7/3/2022).

Parasetamol biasa digunakan sebagai obat pereda nyeri dan penurun demam. Jika digunakan tidak sesuai anjuran, dapat menyebabkan efek samping seperti rasa mual, alergi, bahkan dapat merusak organ hati dan ginjal.

Sedangkan sildenafil merupakan obat untuk mengatasi gangguan fungsi seksual pria atau disfungsi ereksi. Efek sampingnya antara lain dapat menyebabkan diare, kejang-kejang, denyut jantung tidak teratur, kebutaan mendadak hingga kematian.

Karena efek samping yang sangat berbahaya tersebut, BPOM mengamankan produk-produk yang mengandung parasetamol dan sildenafil. Setidaknya BPOM menemukan 15 jenis pangan olahan sebanyak 5.791 kemasan dan 36 jenis obat tradisional sebanyak 18.212 kemasan yang mengandung bahan kimia obat.

Merek produk pangan olahan dan obat tradisional yang mengandung dua jenis bahan kimia obat tersebut antara lain Kopi Jantan, Kopi Bapak, Spider, Kopi Cleng, Urat Madu, dan Jakarta Bandung.

Mirisnya, produk tersebut ternyata sudah mulai beredar sejak Desember 2019 lalu. Bahkan, hasil analisis BPOM menunjukkan penjualan produk Kopi Jantan secara daring pada bulan Oktober-November 2021 mencapai nilai transaksi rata-rata Rp 7 miliar per bulannya.

BPOM mengingatkan pelaku usaha obat dan makanan untuk memproduksi sesuai dengan ketentuan yang belaku, menggunakan bahan-bahan yang aman dan selalu mengutamakan kesehatan masyarakat. Masyarakat juga diimbau untuk jadi konsumen yang cerdas, tidak mudah tergiur iklan saat berbelanja daring, dan melaporkan jika ada indikasi produk olahan yang mencurigakan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Please follow and like us:
Pin Share
Salah satu outlet Erajaya Previous post Wah Erajaya Ekspansi Usaha Ke Bisnis Grosir dan Supermarket
Next post Tessa Wijaya, Sosok Perempuan Yang Jadi Unicorn
RSS
Follow by Email