Read Time:1 Minute, 33 Second

WARTABUGAR – Pasien penyakit ginjal kronis yang perlu tindakan cuci darah atau hemodialisis selama ini menggunakan transfusi darah sebagai bagian dari pengobatan.

Padahal ada jenis terapi lain yang lebih aman yaitu terapi untuk mengatasi kekurangan darah yang disebut Endogenous Erythropoietin (EPO).

Terapi EPO bekerja dengan cara menyuntikkan hormon eritropoietin ke dalam tubuh untuk memperbanyak pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Pasien dengan kondisi ginjal kronis tidak dapat memproduksi sel darah merah dalam jumlah normal karena tidak maksimal dalam menghasilkan hormon EPO.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Klinik Utama Perisai Husada Bandung, Prof Rully Marsis Amirullah Roesli menjelaskan, terapi EPO dapat dilakukan oleh pasien yang kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gram/dL dan tidak memiliki infeksi berat. EPO juga harus diberikan satu hari setelah proses hemodialisis.

Umumnya, pasien cuci darah tidak bisa meregenerasi sel-sel dalam tubuhnya secara cepat, sehingga butuh bantuan dengan terapi EPO secara rutin. Setelah disuntik pun, masih perlu waktu untuk pembentukan sel darah karena tidak bisa terbentuk secara instan.

“Jika disuntik saat ini, jangan diharapkan besok naik, lusa naik atau minggu depan naik karena ada prosesnya, kalau Hb naik, eritrositnya naik,” jelas Prof Rully dilansir dari republika.co.id (28/2/2022).

Lebih lanjut Prof Rully menambahkan, untuk bisa memenuhi target kadar Hb dari 10 g/dL hingga 12 g/dL butuh waktu dua bulan terapi EPO.

Sayangnya, di Indonesia terapi EPO belum termasuk dalam skema pembiayaan tindakan hemodialisis, sehingga transfusi darah menjadi pilihan yang lebih sering digunakan.

Faktanya, terapi EPO lebih aman untuk pasien cuci darah karena dapat menstimulasi sel dalam tubuh untuk membentuk sel darah merah dan meningkatkan Hb yang lebih optimal.

Terapi EPO lebih minim efek samping dibandingkan dengan transfusi darah yang dapat menyebabkan pasien mengalami alergi, infeksi, kelebihan cairan dan zat besi, hingga penyakit graft-versus-host, yakni kondisi ketika sel darah putih dari pendorong menyerang jaringan tubuh penerima darah.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Please follow and like us:
Pin Share
Previous post Bukalapak dan Trans Retail Luncurkan Allofresh
Ilustrasi siswa belajar online Next post Kemendikbudristek Bakal Luncurkan Kurikulum Merdeka Belajar, Butuh Dana Pengembangan
RSS
Follow by Email