Read Time:2 Minute, 1 Second

Pasien kanker yang menjalani kemoterapi sebagai salah satu metode pengobatan kerap mengalami berbagai efek samping yang cukup serius, seperti rambut rontok, tidak napsu makan, hingga gangguan hormon. Namun, ternyata ada cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko efek samping kemoterapi.

Kepala Departemen dan KSM Ilmu Kesehatan Anak RSUP Hasan Sadikin, Susi Susanah menjelaskan, kemoterapi sebagai salah satu modalitas utama pengobatan kanker memiliki risiko efek samping, tetapi bisa diminimalisasi. Caranya dengan melakukan mitigasi.

“Risiko efek samping ini dapat diminimalisasi melalui mitigasi dengan cara mengenal karakteristik obat kemoterapi, karakteristik pasien dan penanganan efek samping,” jelas Susi dalam sebuah webinar dilansir dari republika.co.id (19/2/2022).

Susi menambahkan, beberapa efek samping yang umum dialami oleh pasien kanker saat menjalani proses kemoterapi di antaranya rasa nyeri, konstipasi, diare, rambut rontok, mual dan muntah, neurotoksisitas, hingga risiko kebocoran cairan. Efek samping yang ditimbulkan tersebut bisa langsung muncul, atau bertahap dalam waktu 24 jam.

Bahkan, efek samping kemoterapi juga dapat menyebabkan sirosis hepatis hingga kemandulan. Tentu saja ini akan mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker dalam jangka panjang.

Dengan mitigasi yang dilakukan, efek samping dapat berkurang. Susi mencontohkan, tenaga kesehatan telah memiliki pengetahuan obat-obatan kemoterapi, misal yang menyebabkan rasa mual dan muntah dengan efek ringan, sedang, hingga parah. Pasien kanker yang mendapat obat kemoterapi jenis high emetogenic atau yang berpotensi membuat mual dan muntah akan diberi obat antimuntah sebelum menjalani kemoterapi.

Untuk pasien yang menjalani kemoterapi dengan efek samping mukositis atau kerusakan membran mukosa yang menyebabkan rasa nyeri saat makan dan menelan, pasien akan dianjurkan untuk tetap menjaga kebersihan rongga mulut hingga melakukan terapi medikamentosa.

Lebih lanjut, pasien yang mengalami risiko kebocoran cairan atau obat yang dapat menyebabkan rasa nyeri, bengkak, panas, kesemutan sampai pendarahan juga bisa dikurangi efek sampingnya. Salah satu caranya dengan memilih vena yang sesuai untuk mencegah terjadinya hematoma yang dapat memicu pembengkakan dan nyeri.

Selain itu, Susi menjelaskan, kemoterapi yang bertujuan menghancurkan sel-sel kanker ini dalam perjalanannya juga dapat menghancurkan sel-sel normal dalam tubuh. Sehingga risiko individual hampir selalu terjadi, namun bisa diprediksi dan diantisipasi.

“Antisipasi dalam memberikan kemoterapi khususnya pasien kanker anak yakni mengenali karakteristik obat kemoterapi, mengantisipasi efek samping sehingga bisa mempersiapkan penanganan efek samping tersebut dan persiapan selama dan pasca kemoterapi,” imbuhnya.

Banyak aspek yang harus diperhatikan dalam proses kemoterapi, seperti jenis dan stadium kanker, usia pasien, dan status kesehatan pasien dengan penyakit bawaan atau tidak. Perawat yang kompeten menurut Susi, menjadi salah satu aspek penting dalam keberhasilan kemoterapi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Please follow and like us:
Pin Share
Previous post Ikuti Saran Untuk Mencegah Kanker Kolorektal
Next post Menyedihkan Banyak Bidan Yang Alami Kelelahan Mental di Masa Pandemi COVID-19
RSS
Follow by Email