20 July 2024

Rahasia Efek Akupunktur Berhasil Dikuak Peneliti AS

Read Time:2 Minute, 28 Second

WARTABUGAR – Akupunktur adalah merupakan salah satu terapi tradisional asal Cina yang kini sudah tersedia di fasilitas kesehatan modern, seperti di beberapa rumah sakit. Biasanya terapi itu untuk mengobati nyeri kronis dan masalah kesehatan lain yang terkait dengan peradangan.

Namun, sampai sejauh ini, manfaat tersebut masih misterius. Tapi kini ilmuwan saraf dari Harvard Medical School, Amerika Serikat berhasil menguak misteri tersebut secara anatomi. Di situ ilmuwan itu menjelaskan bahwa anatomi sel saraf dari akupunktur bisa mengaktifkan jalur sinyal tertentu.

Dalam artikel yang dimuat dalam Jurnal Nature yang diterbitkan 13 Oktober 2021 – dikutip Scitech Daily (2/11/2021) – di Nature, tim mengidentifikasi subset neuron pada akupunktur untuk memicu respons anti-inflamasi melalui jalur pensinyalan ini.

Para ilmuwan menentukan bahwa neuron-neuron ini hanya terjadi di area tertentu di daerah belakang-sehingga menjelaskan mengapa akupunktur di kaki belakang bekerja, sementara akupunktur di perut tidak.

“Studi ini menyentuh salah satu pertanyaan paling mendasar di bidang akupunktur: Apa dasar neuroanatomi untuk selektivitas wilayah tubuh, atau titik akupuntur?” kata ketua tim peneliti Profesor Qiufu Ma, ahli neurobiologi HMS.

Salah satu bidang yang menarik bagi tim peneliti adalah apa yang disebut badai sitokin—pelepasan cepat sejumlah besar sitokin yang sering mendorong peradangan sistemik yang parah, dan dapat dipicu oleh banyak hal, termasuk COVID-19, pengobatan kanker, atau sepsis.

“Respons kekebalan yang luar biasa ini merupakan masalah medis utama dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, yaitu 15 persen hingga 30 persen,” kata Ma.

Dalam teknik ini, titik akupuntur di permukaan tubuh dirangsang secara mekanis, memicu sinyal saraf yang memengaruhi fungsi bagian tubuh lainnya, termasuk organ.

Dalam sebuah riset yang diterbitkan pada tahun 2020, Ma dan timnya pernah menemukan bahwa efek elektroakupunktur ini adalah spesifik wilayah: Ini efektif ketika diberikan di daerah belakang, tetapi tidak memiliki efek ketika diberikan di daerah perut. Tim berhipotesis bahwa mungkin ada neuron sensorik yang unik di daerah belakang yang bertanggung jawab atas perbedaan respons ini.

Dalam studi baru mereka, para peneliti melakukan serangkaian percobaan pada tikus untuk menyelidiki hipotesis ini. Pertama, mereka mengidentifikasi subset kecil neuron sensorik yang ditandai dengan ekspresi reseptor PROKR2Cre. Mereka menentukan bahwa neuron-neuron ini tiga sampai empat kali lebih banyak di jaringan fasia dalam tungkai belakang daripada di fasia perut.

Kemudian tim menciptakan tikus yang kehilangan neuron sensorik ini. Mereka menemukan bahwa elektroakupunktur di bagian belakang tidak mengaktifkan sumbu vagal-adrenal pada tikus ini. Dalam percobaan lain, tim menggunakan stimulasi berbasis cahaya untuk secara langsung menargetkan neuron sensorik ini di fasia dalam kaki belakang.

Stimulasi ini mengaktifkan sumbu vagal-adrenal dengan cara yang mirip dengan elektroakupunktur. “Pada dasarnya, aktivasi neuron ini diperlukan dan cukup untuk mengaktifkan sumbu vagal-adrenal ini,” kata Ma.

Dalam percobaan terakhir, para ilmuwan mengeksplorasi distribusi neuron di kaki belakang. Mereka menemukan bahwa ada lebih banyak neuron di otot anterior tungkai belakang daripada di otot posterior, menghasilkan respons yang lebih kuat terhadap elektroakupunktur di wilayah anterior.

“Berdasarkan distribusi serabut saraf ini, kita hampir dapat memprediksi dengan tepat di mana stimulasi listrik akan efektif dan mana yang tidak efektif,” jelas Ma.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Sambut HUT, Yayasan Del Gelar Lomba Tenun. Ini Pemenang
Next post Bank DBS-Manulife Luncurkan Asuransi Kesehatan Baru