Read Time:3 Minute, 26 Second

WARTABUGAR – Kendati peran dokter yang sangat mendasar bagi kesejahteraan bangsa, Indonesia hanya memiliki 4,27 dokter untuk setiap 10.000 populasi pada 2018. Jumlah ini terbilang cukup tertinggal dibanding negara tetangga seperti Filipina (6), Thailand (8,05), atau Singapura (22,9).

Kondisi ini semakin dipersulit dengan tantangan yang dihadapi selama pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun dan merenggut ratusan pahlawan kesehatan.

Untuk itu, peranan teknologi yang mampu menjembatani akses yang lebih luas bagi pasien serta keamanan bagi dokter di masa sulit ini semakin penting.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan roadmap transformasi digital di sektor kesehatan hingga 2024 dimana di dalamnya terdapat peranan telehealth dalam membantu mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan inklusif.

Sebagai salah satu pelaku telehealth terdepan di Indonesia, Halodoc menyelenggarakan diskusi terkait masa depan ekosistem kesehatan masa depan bersama Kementerian Kesehatan  dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam menyambut Hari Dokter Nasional yang akan jatuh pada 24 Oktober mendatang.

Hadir di acara tersebut, Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan Setiaji, mengatakan, pada saat ini Kemenkes telah membentuk Digital Transformation Office dalam rangka mempersiapkan masa depan sistem kesehatan di Indonesia.

Dalam beberapa tahun kedepan, masyarakat diharapkan bisa mengakses layanan kesehatan digital mulai dari dalam kandungan hingga menghadapi kondisi kritis, dimana semua rekam medis akan terintegrasi pada satu sistem, sehingga masing-masing orang nantinya akan memiliki personal health record.

“Teknologi seperti telehealth ini tidak hanya membantu para dokter meningkatkan skill, namun juga memperluas jangkauan layanannya,” ujar Setiadji dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (23/10/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Chief Business Officer & Co-Founder Halodoc, Doddy Lukito turut menekankan pentingnya peran dokter dalam ekosistem Halodoc dan kemampuan teknologi dalam memberikan akses pada masyarakat Indonesia yang lebih luas.

“Dari sebelum pandemi hingga saat ini pandemi masih berlangsung, layanan Chat Dokter di Halodoc masih menjadi yang paling diminati oleh 20 juta monthly active user (MAU) kami,” katanya.

‘Dengan bantuan dari 20.000 mitra dokter, pengalaman pengguna dan kualitas pelayanan konsultasi tetap terjaga meskipun terdapat lebih dari 10x pertumbuhan permintaan dalam platform kami, termasuk dukungan untuk program isolasi mandiri bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan bersama Kementerian Kesehatan,” sambung Doddy.

Tak kalah penting, kami juga melihat perluasan sebaran pengguna yang telah memanfaatkan layanan Halodoc dengan 25% berasal dari daerah luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Papua, Aceh, Bengkulu.”

Di tengah kebutuhan kesehatan yang meningkat signifikan selama pandemi, data dari IDI menyebutkan bahwa terdapat 730 dokter yang gugur dalam peperangan melawan pandemi ini (data per September 2021).

Untuk itu, teknologi diharapkan dapat menjadi salah satu jawaban untuk memberikan wadah konsultasi kesehatan yang lebih aman, baik bagi dokter maupun pasien.

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M. Faqih, SH, MH menuturkan, sejak awal pandemi, IDI terus menghimbau para dokter untuk mengurangi praktik tatap muka, namun pelayanan pasien harus tetap berjalan dengan menggunakan APD lengkap.

Layanan telemedis ini sangat luar biasa perkembangan dan manfaatnya, termasuk dalam mempercepat layanan vaksinasi hingga membuka akses pelayanan isoman.

‘Tanpa bantuan teknologi, hal ini hampir mustahil dikerjakan, apalagi dengan pasien COVID-19 yang banyak, tenaga kesehatan terbatas, dan fasilitas RS yang serba kekurangan. Indonesia juga wilayahnya sangat luas, sehingga akses kesehatan harus dibuka selebar-lebarnya, dan telemedis adalah jawabannya,” kata Daeng.

Doddy turut mengamdini optimisme yang disampaikan oleh IDI. Sebagai pelaku telehealth yang dikenal inovatif dalam bidangnya, Halodoc senantiasa berupaya mengadopsi teknologi terkini untuk terus meningkatkan pengalaman pengguna, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Namun, hal yang juga menjadi fokus adalah bagaimana perusahaan juga turut berkontribusi untuk turut meningkatkan kapasitas pelaku kunci dalam ekosistem ini, yaitu para mitra dokter.

Program yang dimiliki mulai dari pelatihan terhadap adopsi teknologi dan penggunaan platform, pembahasaan jenis penyakit maupun metode treatment baru, hingga pembahasan studi kasus yang terjadi di sekitar.

“Kami juga memiliki pertemuan mingguan untuk evaluasi kualitas pelayanan berdasarkan feedback pengguna dan pelatihan bulanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan mitra dokter,” imbuh Doddy.

“Meskipun banyak pembaruan dan adopsi teknologi yang diimplementasikan oleh Halodoc, tentu saja kontribusi dari mitra dokter tidak akan tergantikan,” ujar Doddy.

Dalam kesempatan ini, CEO & Co-Founder Halodoc – Jonathan Sudharta juga turut hadir menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan Kemenkes RI dan IDI, sehingga Halodoc bisa terus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Please follow and like us:
Pin Share
Jamur ulat bisa sembuhkan pengapuran sendi Previous post Jauhi Depresi Dengan Mengonsumsi Jamur
Next post
RSS
Follow by Email