WARTABUGAR – Ilmuwan dari Singapura baru-baru ini menemukan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendiagnosis penyakit glaukoma. Skrining glaukoma dengan teknologi ini dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura dan dokter dari Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH).

Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan permanen, disebabkan oleh kerusakan saraf optik di bagian belakang mata. Penyakit satu ini bisa dikelola dengan obat, tetapi tidak dapat disembuhkan. Hingga tahun 2020, glaukoma telah menyerang 76 juta orang di seluruh dunia.

Teknologi AI yang dikembangkan oleh NTU dan TTSH menggunakan algoritma yang berfungsi membedakan saraf optik dengan gangguan glaukoma dibandingkan dengan saraf yang normal. Cara kerjanya dengan metode “citra fundus stereo”, yaitu citra multi-sudut retina dua dimensi (2D) yang digunakan untuk membentuk citra tiga dimensi (3D). Teknologi ini memiliki akurasi hingga 97 persen untuk mendeteksi glaukoma.

Associate Professor dari School of Electrical and Electronic Engineering NTU, Wang Lipo, mengatakan bahwa kemampuan untuk mendiagnosis glaukoma dari gambar fundus tersebut bisa menyederhanakan proses deteksi glaukoma yang sebelumnya terdiri dari beberapa tahap, seperti harus melakukan pengukuran klinis tekanan mata internal. Dengan teknologi AI, proses diagnosis bisa lebih singkat, cepat, dan akurat.

“Kemudahan penggunaan pendekatan diagnosis glaukoma otomatis kami yang kuat berarti bahwa setiap praktisi kesehatan dapat menggunakan sistem untuk membantu dalam skrining glaukoma,” ujar Wang Lipo dikutip dari situs Channel News Asia, (7/9/2021).

Sementara itu Kepala Layanan Glaukoma di National Healthcare Group Eye Institute TTSH, Dr Leonard Yip, mengatakan banyak pasien glaukoma yang luput dari diagnosis. Contohnya di negara berkembang seperti India, persentase kasus yang tidak terdiagnosis mencapai lebih dari 90 persen.

“Sementara kasus biasanya diambil selama pemeriksaan mata rutin, skrining berbasis populasi menantang karena peralatan khusus dan mahal atau ahli terlatih yang diperlukan. Proses pemeriksaan gambar retina individu secara manual juga memakan waktu dan bergantung pada evaluasi subjektif oleh para ahli. Sebaliknya, metode kami menggunakan AI berpotensi lebih efisien dan ekonomis,” jelas Yip.

Selain tingkat akurasi yang mencapai 97 persen, metode skrining AI ini juga memiliki sensitivitas yang cukup tinggi. Tim peneliti saat ini tengah menguji algoritma kumpulan data gambar fundus pasien di TTSH. Teknologi tersebut juga akan dihubungkan dengan aplikasi ponsel sehingga bisa digunakan sebagai alat skrining dalam genggaman tangan yang mudah dibawa ke mana pun.

Salah satu ruang kantor AIA Previous post BCA-AIA Luncurkan Asuransi Kesehatan Dengan Manfaat Maksimal 65 Miliar
Next post Alice Ajak Masyarakat Sumbang Masker Buat Rumah Sakit