WARTABUGAR – Selama ini dalam setiap perdagangan Indonesia dengan negara lain, terutama dengan Cina dan beberapa negara di Asia Tenggara, mata uang yang dipergunakan adalah mata  uang Dollar. Namun tidak lama lagi, khususnya perdagangan Indonesia dengan Cina, Indonesia bakal menggunakan mata uang Cina, Yuan.

Sejumlah bank pun merespons postif dan siap melaksanakan aksi perdagangan itu. Bank Singapura misalnya, UOB mengumumkan bahwa anak perusahaannya yakni UOB China dan UOB Indonesia menjadi bank yang ditunjuk untuk melaksanakan transaksi mata uang atau yang dikenal dengan appointed cross currency dealer (ACCD) untuk mata uang Yuan (China) dan mata uang Rupiah (Indonesia) (CNY/IDR).

Hal ini menjadikan UOB sebagai bank Singapura pertama yang menyandang status sebagai bank ACCD untuk mata uang CNY/IDR di China dan Indonesia. UOB China juga merupakan satu-satunya bank yang berkantor pusat di Singapura yang disetujui oleh People’s Bank of China (PBC) menjadi direct market maker untuk mata uang CNY/IDR.

Seperti dalam rilisnya yang diterima WARTA BUGAR, belum lama ini, ACCD bertujuan membantu penyelesaian transaksi internasional untuk barang dan jasa serta investasi langsung dalam mata uang lokal di China dan Indonesia. Hal ini menjadi bagian dari kerangka kerja sama penggunaan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) antara PBC dan Bank Indonesia (BI)[1] untuk memfasilitasi perdagangan bilateral dan arus investasi yang lebih besar antar kedua negara.

Dengan lisensi ACCD, UOB China dan UOB Indonesia dapat membuka akun dengan mata uang CNY dan IDR di dalam negeri dan menawarkan pertukaran lintas mata uang (cross-currency exchange), pembiayaan, pertukaran (swap), dan forwards dalam pasangan mata uang ini untuk nasabah korporasi dan institusi di kedua negara. Solusi CNY/IDR ini akan memungkinkan nasabah UOB di China dan Indonesia untuk memiliki akses langsung terhadap penukaran mata uang CNY/IDR dalam negeri serta likuiditas untuk mengurangi risiko transaksi perdagangan dan investasi.

Wee Ee Cheong, Deputy Chairman and Chief Executive Officer, UOB, mengatakan, melalui jaringan UOB  di seluruh ASEAN dan China, UOB telah menghadirkan solusi yang progresif dalam upaya mendukung pertumbuhan nasabah serta menghubungkan bisnis di seluruh kawasan.

“Kami melihat adanya peningkatan kebutuhan akan layanan lintas negara yang efektif, mulai dari pembiayaan dan manajemen kas hingga FX. Dengan memfasilitasi penggunaan mata uang lokal untuk operasional regional nasabah, kami juga akan membantu memperkuat integrasi dan kerja sama keuangan antar kawasan dan diharapkan dapat mendorong arus perdagangan dan investasi yang lebih besar di sepanjang koridor China-ASEAN,” ujar Cheong.

Pada tahun 2020, volume perdagangan antara China dan Indonesia mencapai US$78,4 miliar, sementara impor China dari Indonesia tumbuh sebesar 9,5persen. Pada tahun yang sama, investasi asing langsung China ke Indonesia melonjak 86,5% menjadi hampir US$2 miliar.

UOB China dan UOB Indonesia mengajukan permohonan lisensi ACCD menyusul meningkatnya permintaan akan layanan mata uang lintas negara yang efisien dari perusahaan-perusahaan di kawasan regional.  Selain itu, UOB China sebagai direct market maker dari CNY/IDR dapat menawarkan penawaran dua arah dari CNY terhadap IDR di pasar FX antar bank, dan nasabah dapat memperoleh kurs FX yang lebih kompetitif untuk efisiensi biaya yang lebih baik.

 

Previous post Perusahaan Farmasi Korea Ini Berambisi Jadi Raksasa Pengembang Obat Dunia
Next post Gigacover Beri Premi Asuransi Kepada Pekerja Lepas, Ini Syaratnya