WARTABUGAR – Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui sebuah sistem rehabilitasi khusus pengobatan stroke tanpa menggunakan obat (drug-free). Sistem rehabilitasi ini disebut MicroTransponder Vivistim Paired VNS System (Vivistim System).

Vivistim System bekerja dengan cara memperbaiki kemampuan motorik bagian atas tingkat sedang hingga berat, khusus untuk penderita stroke iskemik kronis. Stroke jenis ini diakibatkan penyumbatan aliran darah ke otak dengan gejala yang terus berlangsung jangka panjang. Stroke iskemik dapat menyebabkan pengidapnya mengalami kerusakan otak, disabilitas temporer atau permanen, hingga kematian.

Direktur Pusat Perangkat dan Kantor Kesehatan Radiologis FDA, Christopher M. Loftus, M.D., mengatakan bahwa penderita stroke iskemik biasanya kehilangan kemampuan mobilitas di bagian tangan dan lengan, yang disebabkan terbatasnya pilihan pengobatan untuk memulihkan fungsi motorik. Dengan adanya Vivistem System, diharapkan pasien stroke iskemik dapat mengakses pilihan pengobatan yang lebih baik dari sebelumnya.

“Orang-orang yang kehilangan mobilitas di tangan dan lengan mereka karena stroke iskemik seringkali terbatas dalam pilihan pengobatan mereka untuk mendapatkan kembali fungsi motorik. Persetujuan Vivistim System hari ini menawarkan opsi rehabilitasi stroke pertama menggunakan stimulasi saraf vagus. Digunakan bersamaan dengan latihan rehabilitatif, perangkat ini mungkin menawarkan manfaat bagi mereka yang kehilangan fungsi pada tungkai atas karena stroke iskemik,” jelas Loftus yang dikutip dari situs News-Medical.net (27/8/2021).

Disini, Vivistim System berfungsi untuk membantu terapi rehabilitasi pasca stroke, dengan metode merangsang saraf vagus. Nantinya, saraf vagus yang dirangsang dapat meningkatkan kemampuan pasien untuk menggerakkan lengan dan tangan. Cara kerjanya dengan menancapkan aliran listrik ringan dari generator implan di bawah kulit dada pasien. Vivistim System ini nantinya akan terhubung lewat aplikasi yang terpasang di laptop, dan bisa diatur sesuai kebutuhan oleh penyedia layanan kesehatan.

Vivistim System diukur efektivitasnya dengan menggunakan pengukuran yang disebut Upper Extremity Fugl-Meyer Assessment (FMA-UE), ukuran khusus stroke untuk gangguan motorik. Perkembangan fungsi motorik dapat terukur setelah enam minggu terapi.

Pasien yang memilih metode pengobatan ini harus mendiskusikannya terlebih dahulu ke dokter spesialis yang selama ini menangani mereka. Pasalnya, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi akibat dari pengobatan Vivistem System, di antaranya seperti disfonia atau kesulitan berbicara, iritasi, nyeri otot hingga kelelahan.

Vaksin COVID-19 buatan moderna Previous post Vaksinasi COVID-19 Dengan Vaksin Buatan Moderna di Jepang Ditangguhkan Gegara Ini
Next post Ingin Melihat Keindahan Pemadangan Micha Picchu? Tunggu Oktober Nanti