WARTABUGAR – Penyakit Tuberkulosis (TBC) dan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) kerap disepelekan. Padahal, berdasarkan data terbaru dari Global Tuberculosis Report World Health Organization, Indonesia menempati urutan kedua penderita TBC terbanyak setelah India.

Di masa pandemi COVID-19 ini, gejala TBC dengan Corona bisa dikatakan hampir mirip. Penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini juga dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani sesegera mungkin.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menjelaskan perbedaan gejala penderita TBC dengan COVID-19. Penyakit yang menular melalui droplet ini sama-sama menimbulkan demam, batuk, dan lemas. Untuk orang dengan TBC umumnya mengalami demam lebih dari 3 minggu dan tidak kunjung turun, batuk berdahak lebih dari 3 minggu, dan berat badan menurun drastis meski sudah mengonsumsi makanan bergizi.

“Gejala TBC yang paling khas adalah berkeringat pada malam hari walau tidak melakukan aktivitas berat, dan muncul benjolan-benjolan kecil seperti di ketiak dan area leher, di bawah rahang atau di pundak. Bedanya, pada penderita COVID-19 ada gejala anosmia, sedangkan TBC tidak ada, tetapi gejala lainnya mirip. Harus ada hasil laboratorium untuk bisa membuktikan apakah seseorang terkena TBC atau COVID-19,” jelas Tarmizi dalam acara virtual Peluncuran TOSS TBC Virtual Run & Ride 2021 dalam Sosialisasi Gerakan Ayo TOSS TBC, (12/8/2021).

Pada kesempatan yang sama, dr. Tiffany Tiara Pakasi mengingatkan bahaya dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini. Pasalnya, TBC tidak hanya menyerang organ paru-paru, tetapi juga bisa menyerang organ vital tubuh lain seperti selaput otak, tulang, kulit, dan sebagainya. Tidak tanggung-tanggung, penderita TBC memerlukan waktu pengobatan hingga 6 bulan, sedangkan TBC RO butuh waktu hingga 2 tahun untuk terus-menerus minum obat sampai bisa pulih dan benar-benar sembuh.

“Selain konsumsi obat, gizi juga harus diperhatikan, cahaya matahari serta ventilasi yang baik, istirahat yang cukup, aktivitas fisik, dan olahraga rutin. Pengobatan yang cukup panjang butuh konsistensi dan dukungan motivasi dari sekitarnya,” jelas Tiara.

Data Kementerian Kesehatan tentang kondisi TBC di tahun 2020-2021 menunjukkan setidaknya ada 845.000 kasus tuberkulosis di Indonesia, dan yang terlaporkan hanya sekitar 42% yaitu 357.199 kasus. Adanya anggapan bahwa TBC merupakan penyakit kutukan menyebabkan penderitanya enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Sudah saatnya memberantas stigma terkait penderita TBC untuk memudahkan pengobatan serta pencegahan TBC di Indonesia.

Yayasan Bulir Padi Luncurkan Program Baru. Previous post Gandeng Atma Jaya, Yayasan Bulir Padi Luncurkan Program Wirausaha
Next post Miris, 7 dari 10 Keluarga Pasien Gangguan Jiwa Tak Tahu Pelayanan BPJS Kesehatan Gratis