24 Juli 2021

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Peneliti Vaksin Polio Oral Bio Farma Ikut Terlibat Pembuatan Vaksin COVID-19 AstraZeneca

Siapa sangka, ternyata di balik pembuatan vaksin COVID-19 AstraZeneca yang ditemukan oleh peneliti Universitas Oxford Inggris, Profesor Sarah Gilbert, ada campur tangan pemuda Indonesia. Pemuda tersebut merupakan mahasiswa asal Indonesia, Indra Rudiansyah.

WARTABUGAR – Siapa sangka, ternyata di balik pembuatan vaksin COVID-19 AstraZeneca yang ditemukan oleh peneliti Universitas Oxford Inggris, Profesor Sarah Gilbert, ada campur tangan pemuda Indonesia. Pemuda tersebut merupakan mahasiswa asal Indonesia, Indra Rudiansyah.

Indra Rudiansyah termasuk dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca. Mahasiswa berusia 28 tahun tersebut turut berpartisipasi dalam penelitian bersama tim peneliti Jenner Institute University of Oxford.

“Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk tesis saya,” ujar Indra Rudiansyah, dilansir dari IDX Channel (19/7/2021).

Indra saat ini sedang menempuh pendidikan D.Phil in Clinical Medicine, Jenner Institute, University of Oxford. Dirinya termasuk dalam tim peneliti pengembangan vaksin COVID-19 AstraZeneca sejak 20 Januari 2021. Tim peneliti tersebut dipimpin Prof. Sarah Gilbert, Prof. Andrew Pollard, Prof. Teresa Lambe, Dr Sandy Douglas, Prof. Catherine Green dan Prof. Adrian Hill.

Indra memaparkan, penelitian utama tesisnya terkait vaksin malaria, namun Ia bangga bisa berpartisipasi dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca yang dapat membantu menyelamatkan nyawa selama pandemi. Keikutsertaan Indra dalam uji klinis ini adalah menguji respon antibodi dari para volunteer yang sudah divaksinasi.

“Kemudian kita outbreak mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus di tutup kecuali untuk bidang yang terkait dengan COVID-19. Pada saat yang sama project leader menawarkan bagi siapa saja yang bekerja dengan non-COVID jika ingin bergabung akan diperbolehkan,” tutur peneliti vaksin polio oral dari Bio Farma.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Indra disebutkan berperan penuh dalam menganalisa data respon imun tubuh para relawan yang menerima vaksin. Semenjak bergabung pada awal Mei 2020, Indra telah menghabiskan waktu rata-rata 10 jam di laboratorium setiap harinya.

“Ada ratusan peneliti yang bekerja. Sumber daya yang besar ini bertujuan agar vaksin segera bisa dikembangkan dengan cepat,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Facebook LPDP Indonesia.

Mahasiswa lulusan S1 bidang Mikrobiologi ITB tersebut mengakui adanya tantangan tersendiri dalam penelitian ini. Meski begitu, proses pengembangan tergolong cepat. Hanya dalam waktu 6 bulan, tim pengembangan sudah berhasil memperoleh data uji preklinis dan inisial data untuk safety dan immunogenisitas.

“Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini,” imbuh Indra.