23 Juli 2021

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Awas, Yang Suka Memposting Berita Buruk COVID-19 Dicap Menderita Gangguan Jiwa

Selama pandemi COVID-19, ada fenomena dalam kehidupan sosial masyarakat yang disebut dengan “doomscrolling”. Doomscrolling yaitu mencari berita buruk secara online khususnya terkait dengan pandemi. Fenomena ini ternyata sangat umum dialami oleh orang dengan kondisi kesehatan mental, termasuk di antaranya gangguan kecemasan dan depresi.

WARTABUGAR – Selama pandemi COVID-19, ada fenomena dalam kehidupan sosial masyarakat yang disebut dengan “doomscrolling”. Doomscrolling yaitu mencari berita buruk secara online khususnya terkait dengan pandemi. Fenomena ini ternyata sangat umum dialami oleh orang dengan kondisi kesehatan mental, termasuk di antaranya gangguan kecemasan dan depresi.

Asisten profesor klinis psikiatri dan psikolog klinis di Pusat Keluarga Militer Steven A. Cohen di NYU Langone Health, Dr. Ariane Ling menjelaskan, mengapa seseorang tertarik melakukan doomscrolling. Istilah yang masuk dalam kamus Oxford ini terjadi ketika pandemi COVID-19 membuat orang beralih ke internet untuk mendapatkan informasi dan jawaban untuk menghilangkan ketakutan mereka. Imbasnya, seseorang cenderung mencari konten di media sosial secara kompulsif yang membuat depresi atau mengundang kecemasan.

“Kebiasaan doomscrolling cenderung lebih umum di antara pasien dengan kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya. Manusia terprogram untuk belajar dan ingin tahu apa yang terjadi, begitulah cara kita bertahan. Selain itu, ponsel kita menuntut perhatian kita: berita utama dan cara media sosial disesuaikan untuk minat kita terus-menerus membangkitkan minat kita dan memberi makan kebiasaan kita,” jelas Ling dilansir dari situs resmi World Economic Forum, (9/7/2021).

Sebelum pandemi, fenomena doomscrolling sudah ada, dan semakin parah semenjak COVID-19 merebak. Pasalnya, selama pandemi, rutinitas masyarakat mengalami perubahan signifikan. Adanya keterbatasan seperti lockdown dan karantina mengurangi interaksi sosial sesama manusia secara langsung, sehingga lebih banyak menggunakan ponsel sepanjang hari.

“Saya telah melihat siklus perjuangan dalam hal kesehatan mental dan kemudian keluar ke lingkungan dan memastikan semua hal itu dikonfirmasi dan divalidasi. Hal ini juga sering menyebabkan perasaan putus asa. Dalam pandemi, ada pengalaman kehilangan kolektif ini. Bahkan jika Anda tidak mengenal seseorang yang telah meninggal, masih ada gelombang pendengaran yang konstan tentang kehilangan. Ada banyak rasa sakit,” imbuh Ling.

Lalu, bagaimana cara mengatasi kecenderungan untuk melakukan doomscrolling? Ling mengatakan, batasi penggunaan ponsel sebisanya. Kurangi durasi waktu penggunaan media sosial. Jangan terlalu banyak membaca atau mencari berita bernuansa negatif, khususnya saat pandemi COVID-19 yang sedang mengganas ini. Perbanyak aktivitas fisik atau melakukan hobi yang disukai juga bisa membantu mengatasi doomscrolling.

“Membaca, memasak, atau berolahraga bisa menjadi kegiatan yang positif untuk mengatasi doomscrolling. Usahakan juga menerapkan jadwal tidur yang cukup dan teratur setiap harinya,” tutup Ling.