24 Juli 2021

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Inti Fakta Baru Efek Samping Vaksin COVID-19 Buatan Dua Perusahaan Ini

Adanya kontroversi efek penggunaan vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson yang santer sebabkan pembekuan darah kini mulai berhadapan dengan fakta baru. Para peneliti di Jerman mengungkapkan hasil studi kasus pembekuan darah yang langka terjadi usai penggunaan vaksin AstraZeneca.

WARTABUGAR – Adanya kontroversi efek penggunaan vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson yang santer sebabkan pembekuan darah kini mulai berhadapan dengan fakta baru. Para peneliti di Jerman mengungkapkan hasil studi kasus pembekuan darah yang langka terjadi usai penggunaan vaksin AstraZeneca.

Seorang profesor di Universitas Goethe, Jerman, Rolf Marschalek mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh timnya menunjukkan fakta baru. Ternyata, akar masalahnya ada pada faktor adenovirus yang digunakan oleh kedua jenis vaksin tersebut dalam proses menyampaikan instruksi genetik ke komponen protein lonjakan Sars-Cov-2 masuk dalam tubuh.

Vaksin akan mengirim urutan gen DNA dari protein lonjakan ke dalam inti sel. Sesampainya di dalam inti sel, ada bagian tertentu dari protein lonjakan yang terbelah kemudian menciptakan versi mutan. Protein versi mutan inilah yang tidak memiliki kemampuan untuk mengikat membran sel, tempat di mana proses imunisasi dalam sel berlangsung. Protein versi mutan inilah yang menjadi biang kerok pemicu pembekuan darah pada sekitar satu dari 100.000 orang.

Sementara itu, pada vaksin berbasis mRNA seperti yang dikembangkan oleh Moderna dan Pfizer cenderung lebih baik. Materi genetik hasil lonjakan protein dikirimkan ke cairan sel dan tidak memasuki inti sel, sehingga tidak menyebabkan terjadinya pembekuan darah.

Di sisi lain, Rolf Marschalek meyakini adanya jalan keluar jika pihak pengembang vaksin dapat melakukan modifikasi urutan gen untuk mencegah protein lonjakan terbelah dan berimbas pada pembekuan darah.

“Saat ini gen virus ada di dalam nukleus, mereka dapat menciptakan beberapa masalah,” pungkas Rolf Marschalek dikutip CNBC Indonesia dari Financial Times, Kamis (27/5/2021).

Pihak Johnson & Johnson masih berupaya untuk mengoptimalisasi vaksin yang ada saat ini. Mereka optimis, dengan adanya data yang tersedia, protein lonjakan dapat disiasati untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan.

“Kami mendukung penelitian dan analisis lanjutan dari peristiwa langka ini saat kami bekerja dengan para ahli medis dan otoritas kesehatan global. Kami berharap dapat meninjau dan membagikan data jika sudah tersedia,” demikian keterangan tertulis Johnson & Johnson yang dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (27/5/2021).

Teori Rolf Marschalek mendapat tentangan dari rekan sejawatnya. Profesor bidang kedokteran transfuse dari Universitas Bonn Jerman, Johannes Oldenburg, mengatakan masih perlu bukti lebih lanjut untuk menentukan kebenaran teori Rolf Marschalek tersebut.

“Ada bukti yang hilang untuk menunjukkan rantai penyebab dari lonjakan protein pada peristiwa thrombosis. Ini masih hipotesis yang perlu dibuktikan dengan data eksperimen,” ujar Johannes Oldenburg.