WARTABUGAR – Pandemi COVID-19, telah berdampak pada arah bisnis badan usaha. Menurut laporan F5  State of Application Strategy, banyak erusahaan telah mempercepat transformasi digital mereka dalam satu tahun terakhir, dan diprediksi akan terus berlanjut setelah pandemi.

Berdasarkan survei, 87% organisasi menjalankan metode arsitektur modern dan tradisional secara bersamaan, dimana modernisasi dianggap perlu ketika sistem lama kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi bisnis yang berubah dengan cepat. Lebih dari 3/4 responden (77%) melaporkan bahwa mereka saat ini memodernisasi aplikasi internal atau yang berhubungan dengan pelanggan, dengan API sebagai solusi utama dikarenakan kemampuannya untuk menggabungkan fungsi komponen aplikasi tradisional dan modern.

“Laporan tahun ini menyoroti banyaknya perbedaan prioritas yang dihadapi tim IT saat ini. Yang paling umum adalah fleksibilitas serta kenyamanan versus keamanan, juga ketika perusahaan mengorganisir sejumlah besar data dan disaat bersamaan membutuhkan cara untuk melakukan ekstrak data yang bermanfaat,” ucap Kara Sprague, EVP dan GM,  F5, dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (19/3/2021).

“Demikian pula, kami menemukan bahwa perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi untuk mengurangi biaya operasi, sambil terus menyesuaikan aplikasi dengan digital experience yang berfokus kepada pelanggan. Banyak diantaranya adalah fungsi dari kecepatan sebuah industri menanggapi COVID — yang memaksa banyak sekali pertimbangan operasional, kekhawatiran, dan peluang untuk ditangani secara bersamaan dalam waktu yang singkat.

Menurut Sprague, meningkatkan konektivitas, mengurangi latensi, memastikan keamanan, dan memanfaatkan data insight kini menjadi hal yang sangat penting, karena tim IT merasa hampir tidak mungkin untuk mengimbangi laju perubahan dan digitalisasi.

“Disamping itu, meskipun microservices, APIs, dan containers dapat mempercepat penerapan aplikasi individu dari perspektif DevOps, jangkauan dan luasnya aplikasi modern juga menjadi lebih kompleks— dimana banyak organisasi yang tidak memiliki keterampilan untuk benar-benar menyederhanakan penerapannya. Hal ini terutama saat mengelola portofolio aplikasi yang lebih luas dan mencakup beberapa generasi dari application architectures,” sambungnya

“Di era digital saat ini, setiap organisasi berada dalam bisnis yang membutuhkan digital experience. Konsumen semakin mengandalkan konektivitas digital di semua aspek kehidupan mereka, dan hal ini telah mendorong aplikasi menjadi lebih penting dalam strategi perusahaan dan dalam perekonomian,” ucap Surung Sinamo, Country Manager Indonesia, F5

Menurut Surung, laporan tahun ini adalah cerminan yang jelas dari tren yang berkembang saat ini. Karena bisnis terus berinvestasi untuk semakin meningkatkan kualitas dari portofolio aplikasi yang dimiliki, penting untuk memastikan bahwa sebuah aplikasi harus dapat beradaptasi, terukur, dan memiliki kemampuan untuk memulihkan diri sendiri dalam berbagai keadaan.

“Dengan semakin meningkatnya peluang pasca-COVID, pelaku bisnis perlu merancang strategi mengedepankan teknologi seperti edge computing dan data analytics untuk mengoptimalkan aplikasi yang dimiliki sehingga dapat memenuhi keinginan konsumen untuk bisa mendapatkan pengalaman digital kelas dunia, ” kata Surung.

Burhanuddin Muhtadi Previous post Presiden Perlu Lakukan Eksekusi Percepatan Pemulihan
Pameran Online Erajaya Next post Gandeng Samsung, Erajaya Kembali Gelar Galaxy Land Tahun Ini