Read Time:3 Minute, 0 Second

WARTABUGAR – Edukasi Pedagang Bijak adalah bagian dari Kampanye Cegah Perokok Anak yang diinisiasi oleh Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo).

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17-18 Maret 2021 ini menemukan banyak kisah menarik dari peritel. Para pedagang mengakui, masih banyak pembeli rokok di bawah umur yang mendatangi warung atau kios mereka untuk membeli rokok.

Selama dua hari, agen edukasi dari Gaprindo melakukan penyuluhan di dua (2) RW di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, para agen edukasi diturunkan ke puluhan titik guna menyampaikan informasi risiko merokok usia dini, serta ajakan kepada para pemilik warung kelontong untuk mengambil peran dalam menekan angka perokok anak.

Gaprindo menyatakan, pihaknya telah membekali informasi pendukung yang mudah dipahami agar dapat diterima baik oleh para pedagang.

Ragam cerita dan keluh kesah para penjual didapat oleh para agen edukasi. Salah satunya ketika mereka (para pedagang) menemukan banyak alasan ke anak-anak yang mencoba membeli rokok. Yusmirah penjual Toko Adi mengungkapkan bahwa sosialisasi bagi pedagang diperlukan untuk membekali penjual dalam merespon pembeli di bawah umur.

“Kadang susah sih ya misalnya anak kecil nih mau beli rokok, waktu kita tanya beli buat siapa, mereka (anak) jawab buat ayahnya atau siapa di keluarganya,” ungkap Yusmirah dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (19/3/2021).

Meski sudah berupaya menolak, namun anak-anak masih sering berdalih, seperti yang dialami Lukman yang berjualan lebih dari enam tahun di kawasan Peta Barat.

“Kami sudah bilang mending uangnya buat beli yang lain seperti jajan, tapi mereka (anak) bisa kasih alasan kayak disuruh atau yang lain,“ paparnya.

Aksi ini disambut positif oleh warga dan pedagang sekitar yang menerima sosialisasi. “Soalnya kan orang tua mungkin bekerja, gak bisa pantau kegiatan anak termasuk kalau merokok. Semoga kegiatan ini bisa diperluas ke area-area lain,” ungkap salah satu pedagang, Indah.

Rasa tidak nyaman melihat pemandangan anak di bawah umur yang merokok sebetulnya sering hinggap pada para pedagang, namun rasa enggan menegur muncul karena para pedagang belum menemukan cara yang tepat untuk mengingatkan anak-anak.

Kisno, penjual di Warung Yasmin turut mendukung agar kampanye Cegah Perokok Anak ini bisa menambah target area edukasinya.

“Apalagi ngelihat anak-anak berkumpul pada merokok di pinggir jalan, pendapat pribadi sebetulnya nggak seneng melihatnya. Kegiatan ini lebih bagus kalau bisa di area lain, biar bisa juga diikutin dan mencegah perokok anak,” tuturnya.

Gaprindo menyatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk meneruskan aksi nyata ini ke leih banyak area dengan menimbang hasil evaluasi dan penerimaan masyarakat di lapangan.

Pesan edukasi harus dibarengi dengan dukungan fakta yang benar dan mudah dipahami, khususnya ketika disampaikan ke masyarakat luas.

Menurut  Ketua Gaprindo Muhaimin Moefti,  menegur anak yang merokok, harus ada alasan logis agar lebih mengena ketimbang teguran keras. Bagi anak, malah membuat makin penasaran.

Melalui sosialisasi bagi pedagang, harapannya informasi risiko merokok usia dini dapat memperkuat peran dalam menolak menjualkan rokok bagi anak di bawah umur.

Sehingga, lambat laun bisa tercipta perilaku lumrah untuk berani menegur anak yang merokok. Sama seperti kita berani menegur orang yang menyela antrian, membuang sampah sembarangan, melanggar rambu lalu lintas dan lainnya,” ujar Ketua  Muhaimin Moefti.

Dalam gelaran perdananya, Gaprindo bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) sebagai pihak yang menaungi banyak peritel di Indonesia. Pihaknya menyatakan dukungan penuh bagi setiap langkah nyata dalam mencegah akses produk rokok untuk kalangan anak-anak yang sejalan dengan komitmen peritel anggota APRINDO.

“Pembatasan visual produk rokok sudah banyak dilakukan di ritel-ritel modern. Misalnya dengan penyediaan rak khusus di belakang kasir atau di tempat yang tidak bisa dijangkau langsung oleh pembeli. Ini salah satu kuncian agar petugas di toko bisa selektif dan mengetahui usia pembeli,” jelas Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APRINDO, Roy N. Mandey.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
CEO Brick - Gavin Tan Previous post BRICK Dapat Pendanaan Lagi Dari Banyak Investor
Bank UOB Indonesia Next post UOB Indonesia Gelar U-Solar, Ini Hasilnya Setelah Setahun Lebih